Ilustrasi: PT Prudential Indonesia. MI/Himanda Amrullah.
Ilustrasi: PT Prudential Indonesia. MI/Himanda Amrullah.

Klaim 12 Polis Asuransi Ditolak, Ahli Waris Harap Prudential Bijaksana

Nasional Prudential Indonesia
Coki Lubis • 10 November 2019 16:21
Jakarta: Seorang ahli waris dari nasabah asuransi Prudential Indonesia kecewa. Dia adalah Hardius R, ahli waris mendiang Ronny, pemilik 12 polis asuransi jiwa di Prudential. Pasalnya, perusahaan asuransi itu menolak melakukan pembayaran uang pertanggungan meninggal dunia yang diklaimnya.
 
Menurut kuasa hukum Hardius dari PT Dimida Mitra Mandiri (DMM), Ahmad Husaini, jika ditotal nilai uang pertanggungan meninggal dunia yang seharusnya dibayarkan pihak Prudential Life Assurance adalah Rp16 miliar. Dan, pengajuan klaimnya sudah berjalan hampir setahun, sejak Ronny meninggal dunia pada 3 November 2018.
 
"Almarhum Ronny issued polis secara bertahap setelah ditawarkan oleh agen asuransi Prudential, dan semuanya pada tahun 2018, sejak bulan Maret. Memang belum setahun Ronny meninggal sejak polisnya aktif, tapi sesuai ketentuan, ada beberapa polis yang seharusnya bisa diklaim," ucap Ahmad, Minggu, 10 November 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Setelah dilakukan somasi, pada 15 Oktober 2019 pihak Prudential memberikan respons dengan menolak klaim asuransi jiwa tersebut. Alasannya, mendiang Ronny memiliki riwayat Chepalgia dan menjalani terapi asam mefenamat, serta terapi rumatan.
 
Padahal, kata Ahmad, Chepalgia adalah nyeri kepala dan bukan penyakit yang bisa membatalkan penolakan klaim. Sementara dalam ketentuan perasuransian, faktor penolakan klaim adalah bunuh diri, tindakan kejahatan dan hukuman pengadilan, serta penyebab kematian penyakit berat bawaan, seperti jantung, diabetes melitus, TB paru, dan sejenisnya.
 
Sementara tuduhan terapi rumatan -- yang umumnya dilakukan oleh pasien korban narkotika dan psikotropika -- dinilai salah kaprah dan tidak ada buktinya.
 
"Yang ada, berdasarkan dokumen Puskesmas tempat mendiang Ronny memeriksa kesehatan semasa hidupnya, dokter meresepkan jenis vitamin bernama Ramaton, dan buktinya ada. Bukan Rumatan, tapi Ramaton. Ini jadinya seperti mencari-cari alasan untuk menolak klaim. Mungkin karena nilai klaimnya besar," tegas Ahmad.
 
Semua keberatan Ahmad dan kliennya atas penolakan klaim oleh Prudential juga sudah diinformasikan ke pihak-pihak terkait, seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), dan Badan Mediasi Asuransi Indonesia (BMAI).
 
Ahmad sendiri berharap persoalan ini bisa segera selesai dan tidak perlu berlanjut ke meja pengadilan. "Kami hanya ingin pihak Prudential bijaksana dan membayar uang pertanggungan meninggal dunia yang diklaim klien saya," tandasnya.
 
Pada sisi lain, Chief Customer & Marketing Officer Prudential Indonesia, Luskito Hambali mengatakan, keputusan yang diambil pihaknya sudah berdasarkan ketentuan yang berlaku.
 
"Kami memahami kekecewaan Bapak Hardius selaku Penerima Manfaat Polis almarhum Bapak Ronny. Sehubungan dengan itu kami sampaikan bahwa kami telah memproses pengajuan klaim Bapak Hardius sesuai dengan prosedur dan berdasarkan ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam Polis," ucap Luskito melalui pesan singkatnya kepada kami, Minggu, 10 November 2019.
 
Tapi, soal penolakan klaim yang baru diputuskan hampir setahun lamanya, juga terkait tuduhan rumatan kepada mendiang Ronny dalam surat penolakan klaimnya, pihak Prudential belum bisa menyampaikan penjelasannya secara rinci.
 
__
Berita ini sudah mengalami pembaruan pada Minggu, 10 November 2019 pukul 22.09.

 

(COK)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif