Konfrensi pers terkait OTT di Medan - Medcom.id/Sunnaholomi Halakrispen.
Konfrensi pers terkait OTT di Medan - Medcom.id/Sunnaholomi Halakrispen.

Hakim PN Medan Terima Suap Rp3 Miliar

Nasional ott kpk
Sunnaholomi Halakrispen • 29 Agustus 2018 19:26
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Hakim Ad Hoc Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Pengadilan Negeri (PN) Medan Merry Purba sebagai tersangka. Ketua KPK Agus Rahadjo menyebut Merry diduga telah menerima duit suap 280 ribu dolar Singapura (SGD) atau setara Rp3 miliar dari pemilik PT Erni Putra Terari Tamin Sukardi.
 
"Diduga total pemberian yang telah terealisasikan dalam kasus ini adalah 280 ribu dolar Singapura," kata Agus di Gedung KPK, Jakarta Selatan, Rabu, 29 Agustus 2018.
 
Agus memerinci, duit suap diberikan secara bertahap. Mulanya, Tamin memberikan uang sebanyak SGD150 ribu atau setara Rp1,61 miliar kepada Merry melalui panitera Helpandi pada 24 Agustus 2018. Uang diberikan oleh orang kepercayaan Tamin di Hotel JW Mariot Medan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lalu, Tamin kembali memberikan duit sebanyak SGD130 ribu atau setara Rp1,39 miliar. Uang dititipkan lagi ke Helpandi selaku panitera pengganti. KPK menangkap tangan Helpandi ketika hendak memberikan uang kepada sopir Merry Purba.
 
Pemberian ini diduga untuk memengaruhi keputusan majelis hakim. Sebab, Tamin menjadi terdakwa perkara korupsi lahan bekas hak guna usaha (HGU) PT Perkebunan Nusantara (PTPN) II. Tamin menjual 74 hektare dari 126 hektare tanah negara bekas HGU PTPN II kepada PT Agung Cemara Realty (ACR) sebesar Rp236,2 miliar, dan baru dibayar Rp132,4 miliar.
 
Dalam putusan yang dibacakan pada 27 Agustus 2018, Tamin divonis enam tahun penjara dan denda Rp500 juta subsider enam bulan kurungan. Tamin juga diminta membayar uang pengganti Rp132 miliar. Vonis ini lebih ringan dari tuntutan jaksa yang meminta Tamin dihukum 10 tahun penjara dan denda Rp500 juta subsider enam bulan kurungan, serta uang pengganti Rp132 miliar.
 
Total empat orang jadi tersangka dalam kasus dugaan jual beli perkara ini. Selain Merry, Helpandi, dan Tamin, KPK juga menetapkan seseorang bernama Hadi Setiawan, yang diduga sebagai perantara suap sebagai tersangka. Namun, Hadi kabur usai KPK melakukan OTT.
 
Atas perbuatannya, hakim Merry dan Helpandi selaku penerima suap dijerat dengan Pasal 12 huruf c atau Pasal 12 huruf a atau Pasal 11 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 
Sementara Tamin dan Hadi selaku pemberi suap dijerat dengan Pasal 6 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 (1) a atau Pasal 13 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undanh Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 
Selain keempatnya, KPK juga menangkap tangan wakil ketua PN Medan yang bertindak sebagai ketua majelis Wahyu Prasetyo Wibowo (WPW), Ketua PN Medan Marsuddin Nainggolan (MN), hakim PN Medan Sontan Merauke Sinaga (SMS) dan panitera pengganti PN Medan Oloang Sirait (OS).
 

(AGA)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif