Ilustrasi KPK - MI.
Ilustrasi KPK - MI.

Tiga Tersangka Korupsi Garuda Diperiksa

Nasional emirsyah satar tersangka
M Sholahadhin Azhar • 16 Agustus 2019 13:11
Jakarta: Tiga tersangka kasus suap pengadaan pesawat dan mesin pesawat terbang dari Airbus SAS dan Rolls-Royce Plc pada PT Garuda Indonesia dipanggil Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ketiganya diperiksa dalam kapasitas sebagai tersangka.
 
"Penyidik melakukan pendalaman pada ketiganya," ujar Kepala Bagian Pemberitaan dan Publikasi KPK, Yuyuk Andriati, saat dikonfirmasi, Jumat, 16 Agustus 2019.
 
Ketiganya yakni mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar; Beneficial Owner Connaught International Pte. Ltd, Soetikno Soedarjo; dan Direktur Teknik dan Pengelolaan Armada tahun 2007-2012 PT Garuda Indonesia, Hadinoto Soedigno.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Emirsyah diduga menerima suap dari Soetikno senilai 1,2 juta Euro dan USD180 ribu atau setara Rp20 miliar. Dalam penyidikan, KPK menyebut uang suap yang diberikan Soetikno kepada Emirsyah dan Hadinoto tidak hanya berasal dari perusahaan AirBus SAS dan Rolls-Royce.
 
"Ada juga kontrak pembelian pesawat ATR 72-600 dengan perusahaan Avions de Transport Regional (ATR). Kontrak pembelian pesawat Bombardier CRJ 1000 dengan perusahaan Bombardier Aerospace Commercial Aircraft," beber Wakil Ketua KPK Laode M Syarief di Gedung KPK, Jakarta Selatan, Rabu, 7 Agustus 2019.
 
Soetikno selaku konsultan bisnis dari Rolls-Royce, Airbus dan ATR diduga menerima komisi dari tiga pabrikan tersebut. Soetikno juga diduga menerima komisi dari perusahaan Hong Kong, Hollingsworth Management Limited International Ltd (HMI) yang menjadi sales representative dari perusahaan Bombardier.
 
(Baca juga:KPK Tetapkan Tersangka Baru Kasus Suap Garuda)
 
Pembayaran komisi tersebut diduga terkait keberhasilan Soetikno membantu tercapainya kontrak antara PT Garuda Indonesia dengan empat pabrikan tersebut. Soetikno selanjutnya memberikan sebagian dari komisi tersebut kepada Emirsyah dan Hadinoto.
 
"Untuk ESA, SS diduga memberi Rp5,79 miliar untuk pembayaran rumah beralamat di Pondok Indah, USD680 ribu dan EUR1,02 juta yang dikirim ke rekening perusahaan milik ESA di Singapura, dan SGD1,2 juta untuk pelunasan apartemen milik ESA di Singapura. Untuk HDS, SS diduga memberi USD2,3 juta dan EUR477 ribu yang dikirim ke rekening HDS di Singapura," ungkapnya.
 
Tersangka Emirsyah dan Soetikno diduga melanggar Pasal 3 atau Pasal 4 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
 
Tersangka Hadinoto diduga melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 Jo. Pasal 64 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
 

(REN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif