Ilustrasi Jiwasraya. Antara.
Ilustrasi Jiwasraya. Antara.

Kejagung Diminta Tangkap Direksi Lama Jiwasraya

Nasional Jiwasraya
Medcom • 08 Januari 2020 15:46
Jakarta: Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu (FSPBB) mendesak Kejaksaan Agung (Kejagung) segera menangkap direksi lama PT Asuransi Jiwasraya (Persero) serta dugaan sejumlah mafia pasar modal yang diduga terlibat dalam praktik korupsi sehingga membuat perusahaan bangkrut. Mereka diduga menjadi biang yang merugikan negara hingga Rp13,7 triliun.
 
Dugaan praktik rasuah di tubuh Jiwasraya terjadi pada kepemimpinan Hendrisman Rahim dan Hery Prasetyo yang terkesan asal-asalan dalam menempatkan portofolio investasi perseroan. Awal dari penempatan investasi perseroan terjadi seiring dengan jual beli produk JS Saving Plan pada 2014 hingga 2018.
 
Awal dari penempatan investasi perseroan terjadi seiring dengan dijualnya produk JS Saving Plan pada 2014 hingga 2018. Produk ini menawarkan persentase bunga tinggi yang cenderung di atas nilai rata-rata, berkisar 6,5 persen hingga 10 persen. Berkat penjualan produk ini, perseroan memprediksi bakal memperoleh pendapatan total dari premi sebesar Rp53,27 triliun.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Manajemen lama menempatkan dana nasabah pada saham-saham gorengan seperti PT SMR Utama Tbk (SMRU), PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM), PT Inti Agri Resources Tbk (IIKP), PT Hanson International Tbk (MYRX), PT Semen Baturaja Tbk (SMBR), dan PT Capitalinc Investment Tbk (MTFN).
 
Keduanya diduga menjadi mafia pasar modal dengan memborong sejumlah saham perusahaan dengan harga yang tinggi. Namun, selang beberapa bulan saham tersebut jatuh dengan nilai yang sangat rendah.
 
"Aksi goreng-menggoreng saham ini pun sejalan dengan temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menyoal penyebab gagal bayar Jiwasraya di antaranya karena penempatan portofolio yang mengabaikan prinsip kehati-hatian bisnis," kata Sekretaris Jenderal FSPPB Tri Sasono, Rabu, 8 Januari 2020.
 
Menurut Tri, eks Direktur Utama Jiwasraya Hendrisman Rahim dan mantan Direktur Keuangan Jiwasraya Harry Prasetyo yang sudah dicegah ke luar negeri itu mengakibatkan anggaran Jiwasraya defisit. “BPK juga menyebut investasi Jiwasraya di instrumen reksa dana tak jauh berbeda. Jiwasraya membeli produk reksa dana dengan underlying saham kinerja buruk. Salah satu saham yang menjadi sorotan BPK adalah saham PT Inti Agri Resources Tbk (IIKP),” tegasnya.
 
Saat ini, saham perusahaan perikanan, perdagangan, industri, dan perkebunan itu tak bergerak di posisi Rp50 per saham. Dalam lima tahun terakhir, sahamnya turun 58,33 persen.
 
“Artinya sudah cukup bukti dari hasil audit BPK,” tutup Tri Sasono.
 

(ALB)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif