Kontribusi Keuangan Lippo Group di Suap Meikarta Ditelisik

Juven Martua Sitompul 02 November 2018 21:32 WIB
OTT Pejabat Bekasi
Kontribusi Keuangan Lippo Group di Suap Meikarta Ditelisik
Juru bicara KPK Febri Diansyah. ANT/Aprilio Akbar.
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mendalami keterlibatan Lippo Group dalam kasus dugaan suap perizinan proyek pembangunan Meikarta di Bekasi. Khususnya, kontribusi keuangan Lippo Group untuk memberi suap kepada Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin dan kroninya.

Untuk menelusuri kontribusi keuangan Lippo Group, penyidik pun memeriksa sejumlah pihak. Tak terkecuali para petinggi Lippo Group.

"Sejauh mana kontribusi keuangan Lippo Group pada proyek tersebut," kata juru bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Jumat, 2 November 2018.


Tercatat mereka dari Lippo Group yang telah masuk ke ruang penyidikan antara lain Direktur Operasional Lippo Group Billy Sindoro, CEO Lippo Group James Riady, dan mantan Presiden Direktur PT Lippo Cikarang Tbk Toto Bartholomeus.

Kemudian Presiden Direktur PT Lippo Karawaci Tbk Ketut Budi Wijaya, Corporate Affairs Siloam Hospital Group Josep Christoper Mailool, Direktur Keuangan PT Lippo Cikarang Tbk Soni, dan Direktur Keuangan PT Lippo Karawaci Tbk Richard Setiadi.

Febri mengakui dari pemeriksaan itu, ada sejumlah hal yang dikonfirmasi penyidik terhadap para saksi. Salah satunya, sumber uang yang diberikan kepada Neneng berasal dari korporasi atau tidak.

"Termasuk apakah ada atau tidak perintah dari pejabat di Lippo Group ke anak-anak perusahaan untuk pemberian suap," jelas Febri.

Meikarta sendiri merupakan salah satu proyek prestisius milik Lippo Group. Penggarap proyek Meikarta ialah PT Mahkota Sentosa Utama, yang merupakan anak usaha dari PT Lippo Cikarang Tbk. Sementara PT Lippo Cikarang Tbk adalah anak usaha PT Lippo Karawaci Tbk. 

Secara keseluruhan, nilai investasi proyek Meikarta ditaksir mencapai Rp278 triliun. Meikarta menjadi proyek terbesar Lippo Group selama 67 tahun grup bisnis milik Mochtar Riady itu berdiri.

Dalam kasus ini, Billy Sindoro diduga memberikan uang Rp7 miliar kepada Neneng dan anak buahnya terkait pengurusan izin proyek pembangunan Meikarta. Uang itu diduga bagian dari fee yang dijanjikan sebesar Rp13 miliar terkait proses pengurusan izin proyek Meikarta.




(DRI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id