Mantan Dirut Pertamina Karen Agustiawan (kedua kiri) mengenakan baju tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung Kejagung, Jakarta. Foto: Antara/HO
Mantan Dirut Pertamina Karen Agustiawan (kedua kiri) mengenakan baju tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung Kejagung, Jakarta. Foto: Antara/HO

Masa Penahanan Karen Agustiawan Diperpanjang

Nasional Kasus hukum Karen Galaila
18 Oktober 2018 21:02
Jakarta: Masa penahanan tersangka kasus investasi Pertamina di Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia, Karen Agustiawan, diperpanjang. Masa penahanannnya seharusnya selesai 13 Oktober lalu.
 
Kejaksaan Agung memutuskan untuk memperpanjang penahanan mantan direktur utama Pertamina tersebut hingga maksimal 40 hari ke depan. Keputusan perpanjangan penahanan tersebut disampaikan pengacara Karen, Soesilo Aribowo.
 
“Penyidik merasa perlu untuk memeriksa ibu Karen lagi. Jadi, maksimal sampai 40 hari Ibu masih akan berada di tahanan,” kata Soesilo, melalui keterangan tertulis, Kamis, 18 Oktober 2018.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Soesilo mengatakan perpanjangan penahanan tersebut merupakan kewenangan penyidik. Pihaknya tak bisa mencampuri. Jika penyidik masih merasa perlu untuk memperpanjangnya, pihaknya mempersilakan.
 
“Sudah diatur dalam KUHAP. Ini berarti Ibu Karen memasuki masa penahanan kedua,” kata Soesilo.
 
Karen ditetapkan sebagai tersangka melalui Surat Perintah Penetapan Tersangka Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Nomor: Tap-13/F.2/Fd.1/03/2018 tanggal 22 Maret 2018.
 
Perkara ini bermula pada 2009 ketika PT Pertamina (Persero) mengakuisisi (investasi nonrutin) berupa pembelian sebagian aset milik ROC Oil Company LTd di Lapangan Basker Manta Gummy (BMG) Australia. Pembelian berdasarkan agreement for sale and purchase-BMG project tanggal 27 Mei 2009.
 
Dalam pelaksanaannya, ada dugaan penyimpangan dalam pengusulan investasi yang tidak sesuai dengan pedoman investasi. Pengambilan keputusan investasi diduga tanpa adanya studi kelayakan berupa kajian secara lengkap dan tanpa adanya persetujuan dari dewan komisaris. Hal ini membuat keuangan Pertamina dirugikan USD31.492.851 dan AUD26.808.244 atau setara Rp568,06 miliar.
 
Akibat perbuatannya, tersangka disangka melanggar Pasal 2 ayat (1), Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
 
Karen Agustiawan diangkat menjadi Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero) oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang kala itu dijabat Sofyan Djalil pada 2009. Sejak 5 Februari 2009, Karen menempati pucuk pimpinan di Pertamina menggantikan Ari Hernanto Soemarno.
 
Kemudian pada 2013, Dahlan Iskan yang menjabat sebagai Menteri BUMN memperpanjang jabatan Karen sebagai Dirut Pertamina. Saat itu, Dahlan menandatangani Surat Keputusan (SK) perpanjangan jabatan tersebut pada 3 Juni 2013. Namun, pada Oktober 2014 Karen mengundurkan diri dari jabatan penting tersebut.
 
Alasan utama Karen meninggalkan posisi pucuk di Pertamina karena ia ingin berkonsentrasi pada keluarganya. Ibu dengan tiga anak tersebut memang cukup sibuk selama 6,5 tahun terakhir sejak memimpin Pertamina. Selain itu, setelah mengundurkan diri, Karen menjadi pengajar di Universitas Harvard, Amerika Serikat.
 
Meski begitu, selama hampir 6 tahun mengampu jabatan sebagai Dirut Pertamina, Karen berhasil mengubah dan mencatat 4 sejarah penting di Pertamina. Dia adalah perempuan pertama yang memimpin Pertamina. Dia juga menjadi dirut terlama di Pertamina pasca reformasi dengan masa jabatan enam tahun.
 
Dia juga mampu membawa Pertamina meningkatkan laba bersih hingga 97 persen. Bahkan, Pertamina masuk dalam Fortune Global 500 pada 2013 mengalahkan raksasa seperti PepsiCo, Unilever, dan Google.
 

 

(UWA)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif