Sidang terdakwa kasus pembobolan kas BNI Maria Pauliene Lumowa di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu, 13 Januari 2020. Foto: Medcom.id/Candra Yuri Nuralam
Sidang terdakwa kasus pembobolan kas BNI Maria Pauliene Lumowa di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu, 13 Januari 2020. Foto: Medcom.id/Candra Yuri Nuralam

Pembobol BNI Maria Pauline Didakwa Rugikan Negara Rp1,21 Triliun

Nasional bni kasus korupsi kasus pembobolan dana Maria Pauline Lumowa
Candra Yuri Nuralam • 13 Januari 2021 17:03
Jakarta: Terdakwa kasus pembobolan kas Bank Negara Indonesia (BNI) lewat letter of credit (L/C), Maria Pauliene Lumowa, didakwa merugikan negara Rp1,21 triliun. Proses hukum ini akhirnya dijalani Maria setelah buron selama 17 tahun.
 
"Merugikan keuangan negara atau perekonomian negara sebesar Rp1.214.648.422.331,43," kata jaksa penuntut umum (JPU) Sumidi saat membacakan dakwaan di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta Pusat, Rabu, 13 Januari 2021.
 
Maria juga didakwa memperkaya diri sendiri bersama dengan Komisaris PT Sumber Sarana Bintan Jaya Adrian Herling Waworuntu divonis. Adrian telah divonis hukuman penjara seumur hidup atas kasus ini. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca: Maria Pauline Paksa Dirut PT Metranta Teken Sejumlah Dokumen
 
Dalam dakwaan, Maria disebut mengajukan L/C ke BNI 46 di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada periode 2002 sampai 2003. Dia menggunakan nama sepuluh perusahaan agar L/C itu diterima BNI.
 
Sepuluh perusahaan itu, yakni PT Jaka Sakti Buana Internasional; PT Bima Mandala; PT Mahesa Karya Putra Mandiri; PT Prasetya Cipta Tulada; PT Infinity Finance; PT Brocolin International; PT Oenam Marbel Industri; PT Restu Rama; PT Aditya Putra Pratama Finance; dan PT Grahasali.
 
Dalam pemufakatan jahatnya, Maria tak sendiri. Dia dibantu Adrian; Jane Iriany Lumowa; Koesadiyuwono; eks Manajer Pelayanan Nasabah Luar Negeri BNI 46 Edy Santoso; Direktur Utama (Dirut) PT Gramarindo Mega Indonesia Ollah Abdullah Agam; Dirut PT Magnetiq Usaha Esa Indonesia Adrian Pandelaki Lumowa;  Dirut PT Bhinekatama Pasifik Titik Pristiwati; Dirut PT Pan Kifros Aprilia Widharta; dan Dirut PT Metrantara Richard Kountul. 
 
Mereka kongkalikong untuk mencairkan L/C menggunakan sepuluh perusahaan yang telah disepakati oleh Maria. Untuk mencairkan dana haram itu, mereka sampai menggunakan dokumen palsu.
 
"Atas perbuatan dari terdakwa kemudian masing-masing perusahaan membuka rekening giro dan mengajukan pencairan dana dengan menyerahkan L/C berikut dokumen-dokumen yang dianjurkan sebagai pendukung ekspor berupa wesel ekspor kepada Bank BNI 46 (Persero)," ujar Sumidi.
 
Tanpa pengecekan lebih jauh, BNI 46 menyetujui L/C yang diminta. L/C itu dikeluarkan oleh Roos Bank Switzerland, Milik Is Bank Kenia, Word Street Banking Coorporation Ltd, dan Dubai Bank Kenia Ltd.
 
Total 80 L/C didapat Maria dan rekan-rekannya dalam kurun waktu 2002 sampai 2003. Hingga saat ini belum ada satu pun L/C yang dibayar oleh Maria. Total hutang Maria, yakni US$82,87 juta dan €54,07 juta atau Rp1,21 triliun.
 
Atas perbuatannya Maria didakwa melanggar Pasal 2 ayat 1 juncto Pasal 18 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP.
 
(OGI)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif