Ilustrasi: Medcom.id
Ilustrasi: Medcom.id

Masalah ATM Buat Satpol PP DKI Lupa Daratan

Nasional kasus pembobolan dana
Media Indonesia • 20 November 2019 09:35
Jakarta: Sebanyak 12 anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI Jakarta terseret kasus pembobolan anjungan tunai mandiri (ATM). Mereka menggerus Rp32 miliar dari Bank DKI.
 
Mereka lupa daratan setelah saldo tabungannya tak berkurang sesudah menarik uang dari ATM. Aksi tersebut dilakukan sejak Mei 2019. Mereka kini tengah diperiksa di Polda Metro Jaya.
 
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meminta kasus dugaan pembobolan ATM diselesaikan secara hukum. Anggota Satpol PP DKI dibebastugaskan sementara waktu untuk mengikuti proses hukum.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kita tahu itu merupakan pelanggaran pidana. Kalau pidana itu ada proses hukumnya sendiri," kata Anies di Jakarta, Selasa, 19 November 2019.
 
Selain proses hukum, Anies meminta permasalahan administrasi di Bank DKI diungkap dari kasus ini. Pasalnya, kejadian itu menyangkut aset Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI.
 
Kepala Satpol PP DKI Arifin menegaskan tidak ada pencucian uang, korupsi, atau pembobolan Bank DKI oleh anggotanya. Mereka, kata dia, mengambil uang di rekening Bank DKI melalui ATM Bersama, tetapi saldonya tidak berkurang.
 
Para petugas Satpol PP yang terlibat bertugas di wilayah Jakarta Barat, Jakarta Timur, dan di Satpol PP Provinsi DKI. Meski demikian, Arifin belum tahu mengapa banyak oknum anggota Satpol PP yang terlibat dalam kasus ini.
 
"Itu sedang didalami dari pihak kepolisian modusnya bagaimana? Apa dari mulut ke mulut menyampaikan. Mungkin yang lebih paham kita tunggu hasil pemeriksaan dari kepolisian. Kita tidak bisa mendahului proses pemeriksaan kita tunggu," ungkap Arifin.
 
Anggota DPRD DKI dari Fraksi PDI Perjuangan Gembong Warsono menilai ada yang tidak benar soal sistem keamanan Bank DKI. Dia ingin Direktur Utama Bank DKI Zainuddin Mappa dipanggil ke DPRD.
 
"Sampai aset Pemprov bisa diambil karyawan DKI sendiri luar biasa itu. Lah iya dong (musuh dalam selimut) sudah luar biasa itu," tegas Gembong.
 
Gembong mengimbau kepada Bank DKI untuk memerhatikan sistem, pengawasan, dan tanggung jawab atas insiden tersebut. Pasalnya, pembobolan tersebut bisa berdampak pada nasabah.
 

 

(OGI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif