Ilustrasi- Massa melakukan perlawanan ke arah Brimob di Kawasan Tanah Abang, Jakarta, Rabu (22/5/2019) dini hari. ANT/Risyal Hidayat.
Ilustrasi- Massa melakukan perlawanan ke arah Brimob di Kawasan Tanah Abang, Jakarta, Rabu (22/5/2019) dini hari. ANT/Risyal Hidayat.

Polisi Kesulitan Kumpulkan Saksi Kerusuhan 21-22 Mei

Nasional kerusuhan tanah abang Demo Massa Penolak Pemilu
Siti Yona Hukmana • 09 Juli 2019 15:49
Jakarta: Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia Usman Hamid mengatakan polisi kesulitan mengungkap kasus kerusuhan 21-22 Mei. Polisi masih berusaha mengumpulkan saksi dalam kasus itu.
 
"Baik itu saksi-saksi yang melihat langsung, mendengar langsung, atau saksi-saksi yang memang tidak ada di lokasi tapi mengetahui setidaknya beberapa orang yang ikut merencanakan kerusuhan tersebut, kalau tidak salah pada Selasa (21 Mei) malam sebelumnya," kata Usman di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa, 9 Juli 2019.
 
Polisi juga terkendala menguji balistik peluru yang ditemukan di lapangan. Laboratorium forensik menyebut peluru itu tak sesuai dengan seluruh senjata yang dimiliki Polri.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Itu ada sekitar dua hingga empat kasus, sementara beberapa kematian lainnya memang belum semuanya bisa diidentifikasi secara pasti, senjata dan pelurunya dari mana," ujarnya.
 
Baca juga: Amnesty Internasional Bahas Kerusuhan dengan Kapolda Metro Jaya
 
Amnesty Internasional Indonesia juga sedang menyelesaikan penelitian terkait kematian sembilan korban kerusuhan di Jakarta dan satu korban kerusuhan di Pontianak. Mereka menduga Polisi terlibat dalam kasus kematian masyarakat sipil itu.
 
"Dalam temuan polisi, tadi Pak Kapolda juga membuka diri bisa saja kemungkinan anggota yang melakukan," kata Usman.
 
Sejauh ini belum ada kesimpulan yang pasti tentang senjata yang digunakan saat kerusuhan 21-22 Mei. Ada kemungkinan senjata itu berasal dari pihak ketiga.
 
Usman mengatakan Polisi harus menyelidiki dugaan keterlibatan Polisi dan pihak ketiga itu. Polisi diminta mengusut tuntas kasus ini.
 
"Nah ini saya kira kami ingin mendesak Polri, karena itu tugas Polri untuk membongkar dan mengusut," pungkasnya.

 

(DRI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif