Penyidik senior KPK Novel Baswedan. Foto: MI/Rommy Pujianto
Penyidik senior KPK Novel Baswedan. Foto: MI/Rommy Pujianto

Novel Baswedan Sudah Diingatkan Potensi Ancaman Penyerangan

Nasional novel baswedan
Siti Yona Hukmana • 22 Juni 2019 07:00
Jakarta: Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan disebutkan pernah menolak tawaran penjagaan dari Mantan Kapolda Metro Jaya Mochamad Iriawan sebelum insiden penyiraman air keras kepadanya. Novel menolak karena tidak nyaman merasa diistimewakan.
 
"Kata Novel pengamanan seharusnya melalui KPK," ujar Anggota Tim Kuasa Hukum Novel, Alghiffari Aqsa saat dikonfirmasi di Jakarta, Jumat, 21 Juni 2019.
 
Alghiffari menuturkan, tawaran penjagaan disampaikan langsung oleh Kapolda Metro Jaya periode 2016 itu di kediaman Novel kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Iriawan alias Iwan Bule mendatangi rumah Novel sekitar satu bulan sebelum Novel disiram air keras oleh dua orang tak dikenal.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Iriawan, kata Alghiffari, memperingatkan Novel bahwa akan ada penyerangan terhadap dirinya, kemudian Iriawan menawarkan penjagaan. Novel langsung menolak tawaran itu.
 
Atas tawaran dan peringatan dari Iriawan, Novel langsung melapor ke pimpinan KPK. Namun, aduan Novel dinilai dipandang sebelah mata.
 
"(Pimpinan KPK) ada yang menyepelekan, tapi ada juga yang merespon dengan beberapa rekomendasi keamanan," aku Alghiffari.
 
Meski sudah mengadu, lembaga antirasuah itu tak kunjung memberikan pengamanan khusus. Penjagaan di sekitar rumah Novel baru dilakukan setelah terjadi penyerangan.
 
Peringatan dan tawaran penjagaan dari Iriawan itu menjadi salah satu dari belasan pertanyaan yang diajukan oleh penyidik Polri saat memeriksa Novel di gedung KPK pada Kamis, 20 Juni 2019. Menurut Alghiffari, pertanyaan lainnya tak jauh berbeda saat pemeriksaan di Singapura pada 2017.
 
"Ada soal CCTV, kasus yang ditangani Novel Baswedan, peristiwa pengintaian dan lain-lain," terang Alghiffari.
 
Tim gabungan khusus dibentuk Kapolri Jenderal Tito Karnavian melalui surat tugas Kapolri bernomor Sgas/3/I/HUK.6.6./2019 yang dikeluarkan pada 8 Januari 2019. Tim ini bertugas menyelidik dan menyidik kekerasan terhadap Novel selama enam bulan terhitung sejak 8 Januari 2019 sampai dengan 7 Juli 2019.
 
Novel diserang orang tak dikenal pada Selasa, 11 April 2017, usai menjalani salat Subuh di Masjid Al-Ihsan di dekat rumahnya, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Namun, hingga 800 hari pascateror, polisi belum juga mengungkap pelaku atau otak intelektual dari teror keji tersebut.

 

(WHS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif