Konferensi pers oleh Dirtipidter Bareskrim Polri bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan. Foto: Medcom.id/ Kautsar Widya Prabowo.
Konferensi pers oleh Dirtipidter Bareskrim Polri bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan. Foto: Medcom.id/ Kautsar Widya Prabowo.

Polri Amankan 8.295 Pemicu Bom ikan

Nasional illegal fishing pencurian ikan
Kautsar Widya Prabowo • 19 November 2019 01:38
Jakarta: Direktur Tindak Pidana Tertentu (Dirtipidter) Bareskrim Polri bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengamakan 8.295 detonator atau pemicu bom ikan dari daerah Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Pangkep, dan Pare-pare. Bahan peledak tersebut didapat dari China.
 
"Total ada 8.295 detonator. Mereka mendapat bahannya dari negara luar seperti China, yang dikirim lewat kapal kecil sehingga sulit dideteksi," ujar Wakil Direktur Dirtipidter Kombes Agung Budiono, di Bareskrim Polisi, Jakarta Selatan, Senin, 18 November 2019.
 
Ia menambahkan, dari kasus tersebutKepolisian mengamankan 19 orang pelaku illegal fishing sepanjang 2019. Pelaku kerap melakukan illegal fishing dengan berbagai motede terlarang

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Jumlah tersangka 19, mendatangkan bahan-bahan melalui kapal-kapal kecil impor," tuturnya.
 
Agung menyebut penangkapan ikan dengan menggunakan bom ikan dan bius dapat merusak biota laut. Terutama terumbu karang serta membahayakan masyarakat yang mengkonsumsi ikan terkandung bahan kimia dari obat bius.
 
Sementara itu, Direktur Pengawasan Sumber Daya Kelautan KKP Eko Rudianto mengatakan pihaknya mendapati beberapa metode destructive fishing yang dilakukan pelaku tersebut. Seperti bom hingga bius.
 
"Natrium sianida dan potasium sianida kalau ikan terpapar kita yang mengonsumsi ikut terdampak," tuturnya.
 
Lebih lanjut, mereka dijerat Pasal 1 ayat 1 UUD No 12 tahun 1951 tentang kepemilikan senjata api dan bahan peledak, Pasal 109 Jo Pasal 36 ayat 1 UUD 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, dan Pasal 106 UUD Nomor 7 tahun 2014 tentang perdagangan.
 

(EKO)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif