Ilustrasi tolak gerakan Gafatar. (Foto: Antara/Irwansyah)
Ilustrasi tolak gerakan Gafatar. (Foto: Antara/Irwansyah)

Negara Gafatar Membagi Indonesia jadi 12 Wilayah

Nasional gafatar
Arga sumantri • 30 Mei 2016 18:32
medcom.id, Jakarta: Pimpinan Al-Qiyadah Al-Islamiyah, Ahmad Moshaddeq/Musaddeq/Musadek alias Abdussalam diketahui berbuat makar bersama dua pimpinan Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), Mahful Muis Tumanurung dan Andri Cahya. Mereka membangun negara Negeri Karunia Tuan Semesta Alam Nusantara.
 
Kasubdit 1 Keamanan Negara Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Mabes Polri AKBP Satrya Adhy Permana mengatakan, ketiganya membagi Indonesia menjadi 12 wilayah dan menetapkan 12 orang sebagai gubernur wilayah versi Gafatar.
 
Satu wilayah, kata Satrya berada di Malaysia. Para gubernur versi Gafatar dilantik saat melakukan kegiatan di Bogor pada 15 Agustus 2015.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Mereka menamakan negaranya, Negeri Karunia Tuan Semesta Alam Nusantara. 12 wilayah itu terbagi dari Sumatera, Jawa, Kalimantan sampai Papua. Ibu Kota negara di Jakarta," kata Satrya di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Senin (30/5/2016).
 
Gafatar sudah punya anggota sebanyak 40 ribu - 50 ribu anggota di Indonesia. Sejumlah indikasi itu menguatkan polisi untuk menjerat tiga tersangka dengan pasal dugaan pemufakatan makar.
 
Polisi sudah menyita sejumlah barang bukti, antara lain 15 komputer jinjing, beberapa telepon genggam, notebook dan buku-buku yang berisi penyebaran paham Gafatar.
 
"Kita sita buku-buku dari Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Yogyakarta, Cilacap, Bogor, dan Surabaya, yang dapat mendukung alat bukti untuk kita tersangkakan," kata Satrya.
 
Satrya menjelaskan, ada beberapa hal yang menjadi indikator adanya upaya pemufakatan makar yang dilakukan oleh Gafatar. Pertama yakni ditemukannya dokumen yang menunjukkan adanya struktur pemerintahan versi Gafatar.
 
Dokumen yang diperkuat oleh keterangan saksi itu menunjukkan Gafatar telah mendapuk Andri Cahya sebagai Presiden. Sementara, Mahful Muiz Tumanurung menjadi Wakil Presiden. Sedangkan, Ahmad Musadek berperan sebagai guru spiritual.
 
Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Maves Polri Kombes Martinus Sitompul mengatakan, ketiganya juga menjadi tersangka kasus dugaan penistaan atau penodaan agama.
 
Ahmad Musadek terancam Pasal 155 huruf a dan Pasal 156 huruf b tentang Penodaan Agama dengan tuntutan maksimal lima tahun penjara.
 
Sementara Andri dan Mahful Muis Tamanurung dijerat Pasal 110 ayat 1, Jo 107 ayat 1 dan 2 dengan ancaman hukuman seumur hidup atau 20 tahun.
 

(FZN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif