Ketua KY Mukti Fajar Nur Dewata. Media Group Network/Susanto
Ketua KY Mukti Fajar Nur Dewata. Media Group Network/Susanto

Usut Suap di MA, KY Tukeran Informasi dengan KPK

Candra Yuri Nuralam • 26 September 2022 19:21
Jakarta: Komisi Yudisial (KY) melakukan kerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam mengusut dugaan suap di Mahkamah Agung (MA). Keduanya bertukar informasi menuntaskan kasus buntut operasi tangkap tangan (OTT) Hakim Agung Sudrajad Dimyati.
 
"Kita akan melakukan perturakan data termasuk dari KPK pada KY, maupun KY kepada KPK," kata Ketua KY Mukti Fajar Nur Dewata di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Senin, 26 September 2022.
 
Mukti mengatakan pihaknya bakal memeriksa Hakim Agung Sudrajad Dimyati dan Hakim Yudisial Elly Tri Pangestu karena diduga telah menerima suap. Temuan KY saat memeriksa Elyy dan Sudrajad bakal diserahkan ke KPK.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lembaga Antikorupsi juga bakal menyerahkan temuannya ke KY. Pertukaran informasi ini diharap bisa mengembangkan perkara ini.
 
"KY akan bergerak pada wilayah etik. Jadi bisa saja kita akan mengembangkan pada hakim-hakim lain yang mungkin tidak bisa masuk ranahnya KPK tetapi bisa masuk ranahnya KY," ucap Mukti.
 

Baca: Hakim Agung Kena OTT, Presiden: Reformasi Hukum Sebuah Keharusan


Kerja sama ini juga bakal menggandeng MA. Mukti berharap semua pihak yang ikut campur dalam permainan kotor di MA ini bisa diproses sesuai dengan aturan yang berlaku.
 
"Bisa sangat mungkin kita akan memeriksa pihak-pihak yang terkait. Jadi kita awali dulu dari apa yang sudah dilakukan KPK. Nanti dari situ kita bisa gimana-gimana kan," tutur Mukti.
 
KPK menetapkan 10 tersangka termasuk Sudrajad Dimyati. Tersangka lainnya yakni, Hakim Yudisial atau panitera pengganti, Elly Tri Pangestu (ETP); dua aparatur sipil negara (ASN) pada Kepeniteraan MA, Desy Yustria (DY) dan Muhajir Habibie (MH); serta dua ASN di MA, Nurmanto Akmal (NA) dan Albasri (AB).
 
Kemudian, pengacara Yosep Parera (YP) dan Eko Suparno (ES) serta Debitur Koperasi Simpan Pinjam Intidana Heryanto Tanaka (HT) dan Debitur Koperasi Simpan Pinjam Ivan Dwi Kusuma Sujanto (IDKS). Dari 10 tersangka tersebut, Ivan, dan Heryanto belum ditahan.
 
Penetapan tersangka tersebut berdasarkan operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan KPK. Temuan SGD205 ribu dan Rp50 juta yang diduga terkait suap penanganan perkara jadi barang bukti kuat untuk menyeret para tersangka.
 
Heryanto Tanaka, Yosep Parera, Eko Suparno, dan Ivan Dwi Kusuma Sujanto sebagai pemberi suap disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 atau Pasal 6 huruf c Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.
 
Sedangkan Sudrajad Dimyati, Desy Yustria, Elly Tri Pangestu, Muhajir Habibie, Nurmanto, dan Albasri sebagai penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf c atau Pasal 12 huruf a atau b Jo Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.
 
(ADN)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif