Dirut PLN Sofyan Basir/MI/Rommy Pujianto
Dirut PLN Sofyan Basir/MI/Rommy Pujianto

Jatah Sofyan Basir Sama dengan Eni dan Idrus

Nasional OTT KPK Korupsi PLTU Riau-1
Juven Martua Sitompul • 23 April 2019 19:32
Jakarta: Tersangka kasus suap proyek pembangunan PLTU Riau-1 Sofyan Basir diduga kuat menerima fulus dalam kasus suap proyek pembangunan PLTU Riau-1. Direktur Utama PLN itu ditetapkan sebagai menjadi tersangka setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menemukan bukti permulaan cukup.
 
"SFB (Sofyan Basir) diduga menerima janji dengan mendapatkan bagian yang sama besar dari jatah Eni Maulani Saragih dan Idrus Marham," kata Wakil Ketua KPK Saut Situmorang dalam konferensi pers di Gedung KPK, Jakarta, Selasa, 23 April 2019.
 
Baca: Sofyan Basir Tersangka Suap PLTU Riau-I

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Eni, Idrus, dan Sofyan menerima suap dari bos Blackgold Natural Recourses Limited Johannes Budisutrisno Kotjo. Namun, Lembaga Antirasuah tak memerinci jumlah uang yang mengalir ke tiga orang tersebut.
 
"Ini saya kira tentu sudah muncul juga di fakta persidangan, setelah kami klarifikasi juga dalam proses penyidikan dan proses persidangan," kata juru bicara KPK Febri Diansyah.
 
Keterlibatan Sofyan berawal ketika Direktur PT Samantaka Batubara mengirimi PT PLN (Persero) surat, pada Oktober 2015. Surat pada pokoknya memohon PLN memasukkan proyek dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN.
 
Sayangnya, surat tak ditanggapi. Johannes Kotjo akhirnya mencari bantuan agar dibukakan jalan berkoordinasi dengan PLN untuk mendapatkan proyek Independent Power Producer (IPP) Pembangkit Listnk Tenaga Uap Mulut Tambang Riau-I.
 
Baca: Kementerian BUMN Hormati Proses Hukum Dirut PLN
 
Pertemuan diduga dilakukan beberapa kali. Pertemuan membahas proyek PLTU itu dihadiri Eni, Sofyan, dan Johannes Kotjo. Namun, tak ketiganya tak selalu lengkap menghadiri pertemuan,
 
Pada 2016, Sofyan menunjuk Johannes mengerjakan proyek Riau-I. Sebab, mereka sudah memiliki kandidat mengenrjakan PLTU di Jawa.
 
Padahal, saat itu, Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan yang menugaskan PT PLN menyelenggarakan Pembangunan Infrastruktur Kelistrikan (PIK) belum terbit. PLTU Riau-I dengan kapasitas 2x300 MW kemudian diketahui masuk Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN.
 
Johannes meminta anak buahnya siap-siap karena sudah dipastikan Riau-I milik PT Samantaka. Sofyan lalu memerintahkan salah satu Direktur PT PLN merealisasikan PPA antara PLN dengan BNR dan CHEC.
 
Baca: Idrus Marham Divonis 3 Tahun Bui
 
Sofyan akhirnya ditetapkan sebagai tersangka. Penetapan tersangka merupakan pengembangan penyidikan Eni, Johannes, dan Idrus Marham yang telah divonis. Eni dihukum enam tahun penjara, Kotjo 4,5 tahun penjara dan Idrus Marham 3 tahun penjara.
 
Sofyan dijerat Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah dlubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsijuncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP atau Pasal 56 ayat (2) KUHP Juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.
 

(OJE)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif