Suasana sidang Krakatau Steel - Medcom.id/Candra Yuri Nuralam.
Suasana sidang Krakatau Steel - Medcom.id/Candra Yuri Nuralam.

Makelar Krakatau Steel Disebut Sering Atur Transaksi

Nasional krakatau steel
Candra Yuri Nuralam • 09 Juli 2019 03:12
Jakarta: Mantan Asisten Direktur Keuangan PT Grand Kartech, Venny Rosari mengaku bahwa Presdir PT Grand Kartech, Kenneth Sutardja, sering mengirim fee kepada Pihak Swasta, Alexander Muskitta. Jumlahnya mencapai ratusan juta.
 
"Bervariasi ya, bisa puluhan juta sampai Rp 200 juta," kata Venny di Pengadilan tindak pidana korupsi (Tipikor) Jakarta, Jalan Bungur Besar, Jakarta Pusat, Senin, 8 Juli 2019.
 
Venny mengetahui hal tersebut lantaran diberi mandat untuk Kenneth sebagai asisten keuangan pribadinya. Dia ditugaskan untuk mencatat semua pengeluaran dan pemasukan Kenneth.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selama menjadi Asisten Keuangan Pribadi Kenneth, Venny mengaku sering disuruh mengirimkan uang kepada Alexander. Selain Alexander, fulus juga diberikan kepada orang lain. "Ke Pak Alexander dan lain-lain," ujarnya.
 
Venny tidak merinci pemberian fulus kepada siapa saja dalam persidangan. Dia mengaku hanya mengirim fee jika disuruh oleh Kenneth.
 
KPK menetapkan empat tersangka dalam kasus proyek pengadaan kontainer dan boiler di pabrik blast furnace PTKS, Cilegon, Banten. Keempatnya yakni Direktur Teknologi dan Produksi Krakatau Steel, Wisnu Kuncoro; pihak swasta, Alexander Muskitta; Presdir PT Grand Kartech, Kenneth Sutradja; dan Bos Tjokro Group, Kurniawan Eddy Tjokro.
 
Suap terjadi pada 2019, saat Direktorat Teknologi dan Produksi PTKS merencanakan kebutuhan barang dan peralatan, masing-masing bernilai Rp24 miliar dan Rp2,4 miliar. Alexander Muskitta diduga menawarkan beberapa rekanan untuk melaksanakan pekerjaan tersebut kepada Wisnu Kuncoro dan disetujui.
 
Alexander Muskitta menyepakati komitmen fee dengan rekanan yang disetujui, yakni PT Grand Kartech dan Tjokro Group senilai 10 persen dari nilai kontrak. Alexander Muskitta diduga mewakili dan mengatasnamakan Wisnu Koncoro sebagai direktur teknologi dan produksi PTKS.
 
Alexander Muskitta meminta Rp50 juta kepada Kenneth Sutardja dari PTGK dan Rp100 juta kepada Kurniawan Eddy Tjokro dari GT. Pada 20 Maret 2019, Alexander Muskitta menerima cek Rp50 juta dari Kurniawan Eddy Tjokro yang kemudian disetorkan ke rekening.
 
Alexander Muskitta juga menerima uang USD4 ribu atau setara Rp56,64 juta dan Rp45 juta di sebuah kedai kopi di Jakarta Selatan. Uang tersebut kemudian disetorkan ke rekening Alexander Muskitta.
 
Wisnu Kuncoro dan Alexander Muskitta sebagai penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 
Kenneth Sutardja dam Kurniawan Eddy Tjokro selaku penyuap dijerat Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 


 

(BOW)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif