FY (tengah), pelaku penyiraman air keras yang aksinya sangat meresahkan warga Jakarta Barat. Foto: Antara Foto/Aditya Pradana Putra
FY (tengah), pelaku penyiraman air keras yang aksinya sangat meresahkan warga Jakarta Barat. Foto: Antara Foto/Aditya Pradana Putra

Penyiram Air Keras di Jakbar Diduga Kecanduan Gim

Nasional tragedi air keras
Candra Yuri Nuralam • 18 November 2019 16:28
Jakarta: Polisi mendalami motif FY, 29, melakukan serangkaian penyiraman air keras di Jakarta Barat. Dugaan awal, FY beraksi karena kecanduan gim.
 
"Kebetulan dia setiap hari suka main gim, tapi masih kita dalami," kata Kapolda Metro Jaya Irjen Gatot Eddy Pramono di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Senin, 18 November 2019.
 
Gatot tidak menjelaskan gim yang sering dimainkan FY. Polisi masih mendalaminya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Gatot juga memastikan FY tidak mengonsumsi narkoba maupun alkohol. Dari pengakuan FY, aksi itu untuk mendapatkan perhatian.
 
"Menurut keterangan (FY), pelaku pernah jatuh dan robek di kepalanya, dan yang bersangkutan kurang perhatian dari kakaknya bahkan di rumah sakit," ujar Gatot.
 
Pernyataan FY bertolak belakang dengan kakaknya. Berdasarkan keterangan kakaknya, FY mendapat cukup perhatian setelah jatuh dari lantai tiga pada 2015.
 
"Bahkan kakaknya bilang pas di rumah sakit, FY cukup diperhatikan keluarga," ujar Gatot.
 
Total ada sembilan orang yang menjadi korban FY. Semua korban perempuan.
 
Penyerangan pertama dilakukan pada 5 November 2019. FY yang mengendarai motor tiba-tiba menyiram air keras kepada siswi sekolah menengah pertama (SMP) berinisial A, dan P di Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
 
Tiga hari kemudian, FY kembali beraksi. Dia menyiramkan air keras ke Sakinah, 60 tahun, saat pulang berdagang.
 
Terakhir, FY menyiram air keras ke enam siswi SMP pada 15 November 2019. FY langsung kabur setelah melancarkan aksinya.
 
Gatot menjelaskan FY menjadikan perempuan sebagai target karena benci terhadap kakaknya. "Dia nyerang perempuan karena kakaknya perempuan," kata dia.
 
FY terancam dijerat dengan Pasal 80 ayat 2 juncto 76 c Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, dan Pasal 351 ayat 2 KUHP. FY terancam hukuman paling lama lima tahun penjara dan denda paling banyak Rp100 juta.
 

(AZF)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif