Ketua Fraksi Golkar DPR Melchias Markus Mekeng. Foto: Medcom.id/Juven Martua Sitompul
Ketua Fraksi Golkar DPR Melchias Markus Mekeng. Foto: Medcom.id/Juven Martua Sitompul

Melchias Mekeng Tiga Kali Mangkir Panggilan KPK

Nasional Korupsi PLTU Riau-1
Fachri Audhia Hafiez • 20 September 2019 00:13
Jakarta: Ketua Fraksi Golkar DPR, Melchias Markus Mekeng kembali mangkir dari pemeriksaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ini ketiga kalinya Mekeng tak memenuhi panggilan sebagai saksi kasus terminasi perjanjian karya pengusahaan pertambangan batu bara (PKP2B) PT Asmin Koalindo Tuhup (PT AKT) di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
 
"Yang bersangkutan mengirimkan surat sedang ada kegiatan dinas ke luar negeri," kata juru bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Kamis, 19 September 2019.
 
Febri mengatakan dalam suratnya, Mekeng tengah menjalankan dinas pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Bea Material. Mekeng juga berdalih tengah menjalani check up kesehatan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lembaga Antirasuah akan menjadwalkan pemanggilan ulang setelah Mekeng kembali ke Indonesia. Mekeng rencananya kembali pada akhir September 2019.
 
Ini pemanggilan ketiga setelah Mekeng dua kali mangkir pemeriksaan KPK pada 11 September dan 16 September 2019, dengan dalil sedang berada di luar negeri. KPK telah mencegah Mekeng sejak Selasa, 10 September 2019.
 
Kasus suap pengurusan terminasi ini merupakan pengembangan dari kasus suap PLTU Riau-1 yang menjerat beberapa pihak. Samin Tan diduga menyuap eks anggota DPR Eni Maulani Saragih agar membantu proses pengurusan terminasi kontrak PKP2B PT AKT di Kementerian ESDM. PT AKT telah diakuisisi PT BORN.
 
Eni menyanggupi permintaan Samin Tan. Eni yang saat itu menjadi anggota Panja Minerba di Komisi VII DPR menggunakan forum rapat dengar pendapat untuk memengaruhi pihak Kementerian ESDM.
 
Dalam proses penyelesaian, Eni diduga meminta sejumlah uang kepada Samin Tan untuk keperluan pilkada suaminya, Muhammad Al Khadziq, di Kabupaten Temanggung. Pemberian itu terjadi dalam dua tahap melalui staf Samin Tan, dan tenaga ahli Eni Maulani Saragih.
 
Pemberian pertama sebesar Rp4 miliar dilakukan pada 1 Juni 2018, dan pemberian kedua terjadi pada 22 Juni 2018 sebanyak Rp1 miliar. Total suap yang diterima Eni dari Samin Tan sebanyak Rp5 miliar.
 
Samin Tan disangkakan melanggar Pasal 5 Ayat (1) huruf a atau Pasal 13 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 64 Ayat (1) KUHP.

 

(JMS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif