Suasana RSUD Drajat Prawiranegara, Serang, Banten. Istimewa
Suasana RSUD Drajat Prawiranegara, Serang, Banten. Istimewa

Polisi Diminta Usut Pemalak Korban Tsunami

Nasional pungli Tsunami di Selat Sunda
Fachri Audhia Hafiez • 27 Desember 2018 21:04
Jakarta: Indonesia Police Watch (IPW) mengecam dugaan pungutan liar di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Drajat Prawiranegara, Serang, Banten. IPW mendesak Polri mengusut praktik pungli kepada keluarga korban tsunami di Selat Sunda itu.

"Tim Saber Anti Pungli Mabes Polri dan Polda Banten harus segera menurunkan timnya untuk mengusut dugaan pungli yang dilakukan pihak rumah sakit kepada keluarga korban tsunami Selat Sunda di Banten," kata Ketua Presidium IPW Neta S Pane kepada Medcom.id, Kamis, 27 Desember 2018.

Neta mengatakan, kwitansi pembayaran untuk mengambil jenazah yang dimiliki keluarga korban bisa menjadi barang bukti kuat. Pihak rumah sakit juga harus dihukum jika terbukti terlibat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Neta mengecam aksi pungli kepada keluarga korban yang mencapai jutaan rupiah itu. Terlebih, kasus itu terjadi di tengah banyak pihak mengulurkan tangan untuk memberikan bantuan. Neta menegaskan, kejahatan di tengah bencana ini tidak boleh dibiarkan. Baca: Ambil Jenazah, Keluarga Korban Tsunami Dipalak Rp3,9 Juta

Pemerintah pusat dan daerah perlu juga menjelaskan seberapa besar alokasi dana bencana alam, terutama untuk merawat dan mengurus para korban. Dengan begitu, tidak ada alasan bagi pihak rumah sakit untuk memungut biaya terhadap korban bencana alam.

"Aksi pungli adalah sebuah kebiadaban. Ada oknum-oknum rumah sakit yang memanfaatkan situasi, untuk melakukan pungli kepada keluarga," ucap Neta.

Sebelumnya, seorang staf di Instalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal (IKFM) RSUD Drajat Prawiranegara berinisial L memalak keluarga korban tsunami yang menerjang Banten, Sabtu, 22 Desember 2018 lalu. L diduga meminta sejumlah uang kepada keluarga korban jika ingin membawa jenazah korban tsunami pulang. 

Keluarga korban tsunami yang dipungut biaya pengambilan jenazah adalah Badiamin Sinaga. Ia adalah warga Klender, Jakarta Timur. Dalam peristiwa tsunami Banten, Badiamin kehilangan tiga orang kerabatnya, yang saat itu sedang liburan ke Pantai Carita.

Keluarga Badiamin yang menjadi korban tsunami Banten adalah Ruspin Simbolon, Leo Manulang, dan seorang bayi bernama Satria. Badiamin harus mengeluarkan Rp3,9 juta untuk mengambil jenazah Ruspin Simbolon, Rp1,3 juta untuk mengambil jenazah Leo Manulang, dan Rp800 ribu untuk mengambil jenazah Satria.


(AGA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi