Rumah Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif, Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan yang dilempari bom molotov oleh orang tak dikenal. Foto: Medcom.id/Ilham Pratama Putra.
Rumah Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif, Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan yang dilempari bom molotov oleh orang tak dikenal. Foto: Medcom.id/Ilham Pratama Putra.

Teror di Kediaman Pimpinan KPK Diduga Bukan Aksi Teroris

Nasional Teror Bom untuk Pimpinan KPK
09 Januari 2019 16:45
Jakarta: Pengamat terorisme Ridlwan Habib menduga teror bom di kediaman dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bukan aksi teroris. Hal ini tampak dari pola serangan yang dilakukan
 
"Arahnya memang bukan terorisme seperti teror ISIS atau lainnya melainkan hanya bentuk teror terhadap pimpinan KPK, tindakan kriminal," ujarnya melalui sambungan telepon dalam Breaking Metro TV, Rabu, 9 Januari 2019.
 
Ridlwan menilai teror bom di kediaman dua pimpinan KPK lebih mirip dengan aksi kriminal. Berdasarkan bentuk bom, pemilihan momentum, dan target yang disasar tidak menunjukkan adanya indikasi aksi terorisme atas 'jihad'.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Ridlwan teror bom molotov di kediaman komisioner KPK tidak relevan dan terlalu jauh jika dikaitkan dengan kelompok teroris. Kendati, ada kemiripan dari bom yang dijadikan alat teror.
 
"Kalau terornya jelas, menimbulkan ketakutan dan ancaman tapi harus dilacak jangan-jangan (bom) tidak bisa meledak atau jangan-jangan (bom) imitasi seolah ini bom teroris," kata dia.
 
Ridwan mengatakan secara umum merujuk Undang-undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Tindak Pidana Terorisme, aksi terorisme harus memiliki motif ideologi politik. Dalam hal teror terhadap pimpinan KPK, penyidik perlu melakukan penyelidikan mendalam apakah ini termasuk aksi terorisme atau aksi kriminal dalam bentuk teror.
 
"Kalau bentuk teror kelompok teroris penyikapannya lain misalnya ada pendanaan yang eksesif, pelibatan Densus 88. Tapi kalau motifnya kriminal teror, perilakunya teror dan pelakunya kriminal berarti tidak ada motif ideologi. Penyidik harus hati-hati," jelas dia.
 
Lebih lanjut Ridlwan menambahkan kemungkinan teror terhadap dua pimpinan KPK lebih kepada menakuti KPK atas penyelesaian kasus korupsi besar. Namun ia yakin aksi seperti ini tidak akan melemahkan kerja KPK dalam pemberantasan korupsi.
 
"Kalau penerornya mengira teror ini untuk menakuti KPK dalam menuntaskan kasus besar, salah besar. Saya kira malah sebaliknya tapi lagi-lagi kita harus menunggu penyelidikan kepolisian," pungkasnya.
 

 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif