Ketua KPK Agus Rahardjo. Foto: MI/Rommy.
Ketua KPK Agus Rahardjo. Foto: MI/Rommy.

KPK Menduga Banyak Caleg Siapkan Suap

Nasional OTT KPK pilpres 2019 pemilu serentak 2019
Juven Martua Sitompul • 29 Maret 2019 18:52
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menduga masih ada calon legislatif (Caleg) yang menyiapkan uang untuk menyuap warga di Pemilu 2019. Dugaan ini muncul setelah tim Satgas membongkar kasus dugaan suap kerja sama pengangkutan pupuk milik PT Pupuk Indonesia Logistik dengan PT HTK, yang menjerat Anggota Komisi VI DPR RI fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso.
 
Sebanyak 84 kardus berisi uang Rp8 miliar pecahan Rp50 ribu dan Rp20 ribu disimpan dalam 400 amplop disita KPK dari PT Inersa, milik Bowo Sidik. Informasi awal, uang itu akan digunakan Bowo untuk serangan fajar di Pemilu 2019.
 
Bowo merupakan caleg Golkar dari daerah pemilihan (dapil) Jawa Tengah II sekaligus Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Jawa Tengah I kepengurusan DPP Golkar.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kalau saya melihat itu sebagai sinyal bahwa jangan-jangan ini seperti permukaan gunung es, ternyata semua orang melakukan seperti itu (serangan fajar). Ini kebetulan hanya satu yang kita ketahui," kata Ketua KPK Agus Rahardjo di Gedung KPK, Jakarta, Jumat, 29 Maret 2019.
 
Agus berharap Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) melakukan pengawasan ekstra terhadap kegiatan politik uang dalam Pemilu 2019. Lembaga Antirasuah ingin para wakil rakyat yang terpilih bersih dari praktik kotor.
 
"Bawaslu harus lebih giat melakukan pemantauan, karena kita kemarin menemukan amplop yang sebegitu banyaknya," ujar dia.
 
KPK meminta Bawaslu mengawasi pemilu karena KPK tak memiliki kewenangan menangkap pelaku politik uang. "KPK kewenangannya sulit di situ. Karena belum tentu orangnya penyelenggara negara. Dari sisi UU KPK sangat terbatas, kalau enggak salah kan sudah ada pengawasan Bawaslu dan kepolisian. Saya sangat berharap mereka aktif lakukan pengawasan," ujarnya
 
Baca: Duit Suap Bowo Diduga untuk 'Serangan Fajar'
 
Bowo bersama Marketing Manager PT HTK, Asty Winasti dan pejabat PT Inersia, Indung ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait kerjasama pengangkutan pupuk milik PT Pupuk Indonesia Logistik dengan PT HTK. Bowo dan Idung sebagai penerima sedangkan Asty pemberi suap.
 
Bowo diduga meminta fee dari PT HTK atas biaya angkut. Total fee yang diterima Bowo USD2 permetric ton. Diduga telah terjadi enam kali menerima fee di sejumlah tempat seperti rumah sakit, hotel dan kantor PT HTK sejumlah Rp221 juta dan USD85,130.
 
Bowo dan Indung selaku penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b ayat (1) atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 
Sedangkan Asty selaku penyuap dijerat Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
 

(FZN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:25
  • SUBUH04:35
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif