Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo. (Medcom.id/Yona)
Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo. (Medcom.id/Yona)

Polri Kantongi Unsur Pidana Kasus Stupa Borobudur di Twitter Roy Suryo

Siti Yona Hukmana • 28 Juni 2022 14:24
Jakarta: Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri menaikkan status laporan terhadap mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Roy Suryo terkait unggahan stupa Candi Borobudur yang diedit mirip wajah Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke penyidikan. Artinya, Polri mengantongi unsur pidana dalam laporan tersebut. 
 
"Iya (ada unsur pidana). Kan sudah ditingkatkan dari penyelidikan menjadi penyidikan," kata Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Selasa, 28 Juni 2022. 
 
Dedi mengatakan sebelumnya penyidik melakukan pemeriksaan terhadap saksi, saksi pelapor, hingga saksi ahli. Kemudian, melakukan gelar perkara. Hasil gelar menaikkan status ke tahap penyidikan. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Keputusan lain dalam perkara itu, kata Dedi, melimpahkan kasus ke Polda Metro Jaya. Jadi, Polda Metro Jaya yang akan menangani laporan terhadap Roy Suryo. 
 
"Nanti update akan disampaikan oleh Kabid Humas Polda Metro Jaya (Kombes Endra Zulpan)," ujar jenderal bintang dua itu. 
 

Baca: Lewat Saksi Ahli, Polisi Selisik Kasus Stupa Borobudur di Twitter Roy Suryo


Dedi memastikan Polri akan tetap profesional dalam menyidik setiap perkara, termasuk laporan terhadap Roy Suryo. Dia meminta masyarakat tidak membanding-banding penanganan masing-masing kasus. 
 
"Setiap perkara tidak bisa dibandingkan case by case, apple to apple. Penyidik yang secara teknis mengetahui sampai sejauh mana kesulitan yang dihadapi atau kendala yang dihadapi di lapangan. Yang jelas komitmen penyidik tetap akan profesional dalam proses penyidikan terkait menyangkut masalah pelaporan saudara RS (Roy Suryo)," tutur Dedi. 
 
Laporan terhadap Roy teregistrasi dalam LP/B/0293/VI/2022/SPKT/BARESKRIM tertanggal 20 Juni 2022. Tercatat pelapor dalam kasus tersebut ialah Kevin Wu. Sedangkan, terlapor dalam perkara ini adalah pemilik akun twitter @KRMTRoySUryo2. 
 
Pelapor menduga pemilik akun tersebut melakukan tindak pidana ujaran kebencian berdasarkan suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) dan/atau penistaan agama Buddha. Atas pelanggaran itu, Roy Suryo diduga melanggar Pasal 45 A (2) jo Pasal 28 Ayat 2 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE dan/atau Pasal 156a KUHP. 
 
Sebelumnya, viral beberapa foto di media sosial Twitter. Tampak dalam foto stupa Candi Borobudur mirip wajah Kepala Negara sambil memejamkan mata. Unggahan itu ditambah dengan keterangan "Si stupa Candi Borobudur ada patung dewa anyar".
 
Selain itu, ada pula unggahan patung Candi Borobudur lainnya. Dalam unggahan itu diberi keterangan 'pantas saja tiketnya mahal, ternyata opung sudah buat patung "I Gede Utange Jokowi" untuk tambahan dana bangun IKN'. 
 
Kedua foto itu diunggah oleh akun Twitter @KRMTRoySuryo2. Dalam unggahan itu dia menuliskan narasi "mumpung akhir pekan, ringan2 saja Twit-nya. Sejalan dengan protes rencana kenaikan harga tiket naik ke Candi Borobudur (dari 50 rb) ke 750 rb yg (sudah sewarasnya) DITUNDA itu, banyak kreativitas netizen mengubah salah satu stupa terbuka yang ikonik di Borobudur itu, LUCU, he 3x ambyar".
 
Setelah viral, Roy menghapus cuitannya tersebut. Dia takut digiring BuzzerRp. Roy juga telah meminta maaf atas kegaduhan yang terjadi, khususnya kepada umat Buddha. Roy menegaskan dia bukan pengedit foto stupa, melainkan hanya ikut mengunggah. 
 
(LDS)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif