Gedung Merah Putih KPK. Foto: Medcom.id/Candra Yuri Nuralam.
Gedung Merah Putih KPK. Foto: Medcom.id/Candra Yuri Nuralam.

Angin Prayitno Jadi Saksi untuk Anak Buah di Sidang Suap Pajak

Nasional KPK Kasus Suap kasus korupsi korupsi pajak Angin Prayitno Aji
Fachri Audhia Hafiez • 21 April 2022 09:23
Jakarta: Mantan Direktur Pemeriksaan dan Penagihan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Angin Prayitno Aji akan menjadi saksi dalam persidangan kasus dugaan korupsi rekayasa penghitungan pajak. Dia menjadi saksi untuk dua terdakwa sekaligus mantan anak buahnya, Wawan Ridwan dan Alfred Simanjuntak.
 
"Saksi Wawan dan Alfred salah satunya Angin Prayitno Aji," kata pelaksana tugas (Plt) juru bicara bidang penindakan KPK Ali Fikri melalui keterangan tertulis, Kamis, 21 April 2022.
 
Angin merupakan pihak yang juga terjerat pada perkara tersebut. Dia telah divonis 9 tahun penjara dalam kasus suap dan belum lama ini ditetapkan sebagai tersangka tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Jaksa penuntut umum (JPU) KPK juga bakal menghadirkan saksi mantan Kepala Sub Direktorat Kerja Sama dan Dukungan Pemeriksaan DJP, Dadan Ramdani. Dadan juga sudah divonis enam tahun pada perkara itu.
 
Wawan dan Alfred sejatinya bersama-sama Angin melakukan kejahatan merekayasa penghitungan pajak. Sejumlah uang juga mengalir ke Angin selaku atasan keduanya.
 
Berikutnya, terdapat enam saksi dari berbagai unsur yang bakal hadir. Yakni, Sales Executive Honda Megatama Bekasi, Ade Apriyanto; sales Manager pada Honda Mugen Puri, Bayu Kurniawan; Manager Cabang Otista pada Golden Money Changer, Djunianto Lemuel; pensiunan aparatur sipil negara (ASN), Nanang Sumantri, serta dua swasta Dodi Wahyono dan Laurensia Monica.
 
Baca: KPK Selisik Aliran Dana Terkait Pemeriksaan Pajak
 
Sidang akan digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Sidang perkara nomor 3/Pid.Sus-TPK/2022/PN Jkt.Pst. itu akan dihelat sekitar pukul 10.00 WIB.
 
Alfred dan Wawan didakwa menerima suap total SGD1.212.500 atau senilai Rp12,9 miliar. Keduanya kecipratan fulus setelah merekayasa hasil penghitungan tiga wajib pajak. Keduanya masing-masing menerima SGD606,250 (sekitar Rp6,4 miliar).
 
Keduanya juga didakwa menerima gratifikasi masing-masing Rp2,4 miliar. Fulus itu diterima dari sembilan wajib pajak.
 
Sedangkan, Wawan juga didakwa dua pasal terkait tindak pidana pencucian uang (TPPU). Dia menyamarkan harta kekayaannya itu dengan mentransfer uang ke sejumlah orang.
 
(LDS)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif