Kepulauan Tanimbar: Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Menteri PPPA) Yohana Yembise melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Kepualauan Tanimbar, Provinsi Maluku. Yohana memberikan sosialisasi soal perlindungan perempuan dan anak.
Di hadapan kepala daerah, ASN, dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Yohana menyinggung masih tingginya angka kekerasan perempuan di kawasan Indonesia Timur, termasuk di Maluku.
"Ini menjadi pukulan bagi saya. Mengapa kok di Indoensia Timur masih ada kekerasan terhadap perempuan," kata Yohana di Saumlaki, Kepulauan Tanimbar, Selasa, 27 Agustus 2019.
Yohana mengatakan Indonesia sudah meratifikasi konvensi Perserikatan Bangsa-bangsa untuk penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan (Convention on Elimination of All Types of Discrimination Against Woman). Semua negara-negara di dunia sedang berlomba-lomba untuk menghapus kekerasan terhadap perempuan.
Selain itu, Yohana juga menyebut isu perempuan dan anak menjadi salah satu indikator dalam Sustainable Develeopment Goals (SDGs). Dia meminta semua perangkat pemerintah daerah bekerja bersama-sama untuk mewujudkan Indonesia yang bebas kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Yohana menyebut perempuan harus dimuliakan. Hal ini lantaran perempuan adalah kunci untuk keberlanjutan generasi penerus bangsa.
Selain itu, dia juga menilai perempuan-perempuan Indonesia saat ini sudah relatif memiliki pemikiran yang maju. Dia mendorong perempuan agar terus berpartisipasi mengisi posisi-posisi strategis di pemerintahan maupun bidang lainya.
"Saya mengajak perempuan, ayo bangkit. Jangan merasa minder. Jangan merasa laki-laki mendominasi kita semua. Kita punya aset untuk membangun negara ini," ujarnya.
Kepulauan Tanimbar: Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Menteri PPPA) Yohana Yembise melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Kepualauan Tanimbar, Provinsi Maluku. Yohana memberikan sosialisasi soal perlindungan perempuan dan anak.
Di hadapan kepala daerah, ASN, dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Yohana menyinggung masih tingginya angka kekerasan perempuan di kawasan Indonesia Timur, termasuk di Maluku.
"Ini menjadi pukulan bagi saya. Mengapa kok di Indoensia Timur masih ada kekerasan terhadap perempuan," kata Yohana di Saumlaki, Kepulauan Tanimbar, Selasa, 27 Agustus 2019.
Yohana mengatakan Indonesia sudah meratifikasi konvensi Perserikatan Bangsa-bangsa untuk penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan (
Convention on Elimination of All Types of Discrimination Against Woman). Semua negara-negara di dunia sedang berlomba-lomba untuk menghapus kekerasan terhadap perempuan.
Selain itu, Yohana juga menyebut isu perempuan dan anak menjadi salah satu indikator dalam
Sustainable Develeopment Goals (SDGs). Dia meminta semua perangkat pemerintah daerah bekerja bersama-sama untuk mewujudkan Indonesia yang bebas kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Yohana menyebut perempuan harus dimuliakan. Hal ini lantaran perempuan adalah kunci untuk keberlanjutan generasi penerus bangsa.
Selain itu, dia juga menilai perempuan-perempuan Indonesia saat ini sudah relatif memiliki pemikiran yang maju. Dia mendorong perempuan agar terus berpartisipasi mengisi posisi-posisi strategis di pemerintahan maupun bidang lainya.
"Saya mengajak perempuan, ayo bangkit. Jangan merasa minder. Jangan merasa laki-laki mendominasi kita semua. Kita punya aset untuk membangun negara ini," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(BOW)