Komnas HAM: Pemberian Hak Korban Terorisme Jangan Tunggu Pengadilan

Nur Azizah 26 Mei 2018 11:19 WIB
terorismerevisi uu terorisme
Komnas HAM: Pemberian Hak Korban Terorisme Jangan Tunggu Pengadilan
Komisioner Komnas HAM Choirul Anam --Medcom.id/Intan Yunelia
Jakarta: Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Antiterorisme turut mengatur tanggung jawab negara pada warga yang menjadi korban terorisme. Hanya saja, pemberian hak korban dinilai masih terlalu rumit. 

Komisioner Komnas HAM Choirul Anam mengatakan, pemberian hak sebaiknya melalui penetapan pengadilan, bukan melalui putusan pengadilan. Sebab, pemberian hak melalui putusan pengadilan akan memakan waktu.

"Kalau diberikan melalui putusan kasihan karena prosesnya bisa satu tahun, harus menunggu sampai inkracht," kata Anam di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu, 26 Mei 2018.


Sementara pemberian hak melalui penetapan pengadilan hanya membutuhkan waktu satu atau dua bulan. Dalam kesempatan yang sama, Anam turut mengapresiasi keputusan Pemerintah yang tidak melupakan korban.

"Kami mengapresiasi karena pemerintah mau memberikan santunan kepada korban," pungkas dia.

Baca: Tindak Lanjut UU Antiterorisme di Tangan Pemerintah

Sebelumnya, Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly menyampaikan bahwa undang-undang tersebut suatu terobosan. Pasalnya, Dalam Pasal 35A, 35B dan 36 mengatur perlindungan terhadap korban. 

"Ini terobosan, korban akan diberikan kompensasi. Baik WNI maupun orang asing, pokoknya korban terorisme," kata Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly di gedung Nusantara II, DPR RI, Jakarta, Jumat, 25 Mei 2018.



Yasonna menjelaskan, pasal tersebut mengatur pemerintah harus memberikan perawatan medis maupun kompensasi terhadap korban sesuai dengan jumlah kerugian.
 
Menurut Yasonna, perawatan medis dan kompensasi tidak berlaku surut atau berlaku untuk korban terorisme terdahulu sebelum UU ini disahkan.
 
"Ini keputusan politik kita. Masih banyak para korban yang barangkali belum terselesaikan masih ada trauma, itu kita harap bisa diselesaikan," ungkap Yasonna.



(YDH)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id