Terdakwa kasus suap PLTU Riau-1 Eni Maulani Saragih mendengarkan keterangan saksi saat menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor. Foto: MI/Mohamad Irfan.
Terdakwa kasus suap PLTU Riau-1 Eni Maulani Saragih mendengarkan keterangan saksi saat menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor. Foto: MI/Mohamad Irfan.

Staf Eni Akui Terima Tas Berisi Uang

Nasional OTT KPK Korupsi PLTU Riau-1
Damar Iradat • 26 Desember 2018 19:44
Jakarta: Staf ahli Eni Maulani Saragih, Tahta Maharaya mengaku sempat diperintahkan Eni untuk menemui Neni Afwan selaku staf pemilik PT Borneo Lumbung Energi dan Metal, Samin Tan. Dari Neni, Tahta menerima sejumlah dokumen dan tas olahraga yang belakangan diketahui berisi uang Rp1 miliar.
 
Tahta yang dihadirkan sebagai saksi dalam sidang perkara suap dan gratifikasi dengan terdakwa Eni itu mengatakan, awalnya, Eni memberikan nomor telepon milik Neni. Ia lantas menghubungi Neni.
 
"Ternyata janjian ketemu di Plaza Senayan. Bu Neni bawa staf atau rekannya, cuma ada dua orang lain," kata Tahta di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu, 26 Desember 2018.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam pertemuan itu, kata Tahta, Neni tidak menyerahkan apapun. Neni hanya menyampaikan pesan yang harus diteruskan ke Eni.
 
"Saya diminta sampaikan ke Bu Eni, 5 dan 1.2," jelas Tahta.
 
Jaksa lantas mengonfirmasi angka yang diminta untuk diteruskan ke Eni tersebut. Namun, Tahta mengaku tidak mengetahui maksud angka tersebut dan hanya langsung menyampaikan kepada Eni.
 
Tahta melanjutkan, setelah itu, ia kembali disuruh Eni untuk bertemu dengan Neni. Namun, saat itu, Neni hanya mengutus salah seorang stafnya.
 
"Waktu itu dengan staf Bu Neni, saya dikasih berkas, satu map bundel," tuturnya.
 
Kemudian, pada 2 Juni 2018, Tahta kembali disuruh menemui Neni di Menara Merdeka, Jalan Budi Kemuliaan, Gambir, Jakarta Pusat. Saat itu, Tahta kembali diterima oleh staf Neni.
 
Menurut dia, saat itu, ia hanya diserahkan sebuah tas olahraga berwarna hitam. Ia mengaku tidak mengetahui isi dari tas tersebut. Ia baru mengetahui isi tas tersebut uang Rp1 miliar saat diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
 
"Cuma tanda tangan terima. Dibilang buah satu kilo atau ton, saya lupa. Setelah penyidikan saya tahu, isinya Rp1 miliar," ujarnya.
 
Eni sebelumnya didakwa menerima uang Rp4,75 miliar dari Bos Blackgold Natural Resources Limited, Johannes Budisutrisno Kotjo. Uang suap itu diduga diberikan agar Kotjo mendapatkan proyek Independent Power Producer (IPP) Pembangkit Listrik Tenaga Uap Mulut Tambang Riau (PLTU MT Riau-I).
 
Tidak hanya itu, ia juga didakwa menerima gratifikasi sejumlah uang dari beberapa pengusaha migas berupa uang sejumlah Rp5,6 miliar dan SGD40 ribu. Dalam surat dakwaan, jaksa meyakini, uang-uang gratifikasi tersebut digunakan untuk kampanye Al Hadziq sebagai calon bupati di Pilkada Temanggung.
 
Dalam surat dakwaan, Samin Tan disebut turut memberikan Eni sejumlah uang. Politikus Partai Golkar itu disebut menerima uang sebesar Rp5 miliar dari Samin Tan.
 
Dalam perkara gratifikasi, Eni didakwa melanggar Pasal 12 B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 65 ayat 1 KUHP.
 

(HUS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif