Kasus korupsi. Ilustrasi: Medcom.id/Mohammad Rizal.
Kasus korupsi. Ilustrasi: Medcom.id/Mohammad Rizal.

Direktur Keuangan Waskita Karya Diperiksa KPK

Juven Martua Sitompul • 28 Juni 2019 11:26
Jakarta: Direktur Keuangan PT Waskita Karya (Persero) Tbk Haris Gunawan dipanggil penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dia akan diperiksa dalam kasus dugaan korupsi 14 proyek fiktif yang digarap PT Waskita Karya.
 
"Dia akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka FR (Kepala Divisi II PT Waskita Karya Fathor Rachman)," kata juru bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Jakarta, Jumat, 28 Juni 2019.
 
Penyidik juga memanggil tiga saksi lain, yakni mantan Direktur Utama (Dirut) PT Aryana Sejahtera, Happy Syarief; Direktur PT MER Engineering, Ari Prasodo; serta Direktur PT Safa Sejahtera Abadi, Riza Alfarizi. Mereka juga akan diperiksa untuk tersangka Fathor Rachman.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Belum diketahui kaitan para saksi dalam kasus ini. Yang jelas, KPK sedang menelusuri aliran uang dan mendalami konstruksi perkara korupsi 14 proyek fiktif yang dikerjakan PT Waskita Karya.
 
KPK menetapkan dua tersangka dalam kasus ini. Mereka adalah Fathor Rachman dan mantan Kepala Bagian Keuangan dan Risiko Divisi II PT Waskita Karya Yuly Ariandi Siregar.
 
Fathor Rachman dan Yuly Ariandi Siregar diduga menunjuk sejumlah perusahaan subkontraktor untuk pekerjaan fiktif pada 14 proyek PT Waskita Karya. Proyek-proyek ini tersebar di Sumatra Utara, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Bali, Kalimantan Timur, hingga Papua.
 
Baca: KPK Pastikan Periksa Petinggi Waskita Karya
 
Proyek-proyek tersebut sebenarnya telah dikerjakan oleh perusahaan lainnya, tetapi tetap dibuat seolah-olah akan dikerjakan empat perusahaan yang telah teridentifikasi. Diduga, empat perusahaan ini tidak menjalankan pekerjaan sebagaimana yang tertuang dalam kontrak.
 
Atas pekerjaan fiktif ini, PT Waskita Karya memberikan bayaran kepada perusahaan subkontraktor. Perusahaan subkontraktor lalu mengembalikan uang tersebut kepada sejumlah pihak, termasuk yang diduga digunakan untuk kepentingan pribadi Fathor dan Ariandi.
 
Disinyalir, keuangan negara mengalami kerugian hingga Rp186 miliar akibat perkara ini. Perhitungan ini adalah jumlah pembayaran dari PT Waskita Karya kepada perusahaan-perusahaan subkontraktor pekerjaan fiktif tersebut.
 
(OGI)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif