Jakarta: Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror gencar mengungkap jaringan-jaringan terduga teroris di tanah air. Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan pengungkapan kasus terorisme sebagian besar melalui operasi intelijen.
"Operasi teroris di Indonesia, 75 persen intelijen, sementara penyerangan lima persen, dan 20 persen pemberkasan untuk ke peradilan," kata Tito di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa, 22 Mei 2018.
Saat ini, TNI akan ikut memberantas terorisme di Indonesia. Tito mengatakan kerja sama yang akan dilakukan antara Polri dan TNI sama seperti operasi Tinombala di Poso.
"Jadi saya berpendapat saat ini mekanismenya seperti operasi Tinombala, kekuatan Polri dan TNI bergabung," ujar dia.
Dirinya juga meminta dukungan masyarakat untuk menyelesaikan masalah ini. Sehingga, ideologi yang disebar para teroris tidak berkembang.
"Mereka survive tapi riak-riak saja, tapi negara tidak didukung publik maka over reactive (terorisnya)," pungkas dia.
Jakarta: Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror gencar mengungkap jaringan-jaringan terduga teroris di tanah air. Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan pengungkapan kasus terorisme sebagian besar melalui operasi intelijen.
"Operasi teroris di Indonesia, 75 persen intelijen, sementara penyerangan lima persen, dan 20 persen pemberkasan untuk ke peradilan," kata Tito di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa, 22 Mei 2018.
Saat ini, TNI akan ikut memberantas terorisme di Indonesia. Tito mengatakan kerja sama yang akan dilakukan antara Polri dan TNI sama seperti operasi Tinombala di Poso.
"Jadi saya berpendapat saat ini mekanismenya seperti operasi Tinombala, kekuatan Polri dan TNI bergabung," ujar dia.
Dirinya juga meminta dukungan masyarakat untuk menyelesaikan masalah ini. Sehingga, ideologi yang disebar para teroris tidak berkembang.
"Mereka
survive tapi riak-riak saja, tapi negara tidak didukung publik maka
over reactive (terorisnya)," pungkas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SCI)