Mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Karen Galaila Agustiawan. Foto: MI/Panca.
Mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Karen Galaila Agustiawan. Foto: MI/Panca.

Kejagung akan Panggil Eks Dirut Pertamina

Nasional Kasus hukum Karen Galaila
Lukman Diah Sari • 01 September 2018 04:16
Jakarta: Kejaksaan Agung akan kembali memanggil eks Dirut PT Pertamina (Persero) Karen Galaila Agustiawan, tersangka kasus dugaan korupsi investasi di Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia pada 2009. Karen selalu mangkir setiap dipanggil sejak ditetapkan jadi tersangka pada 22 Maret 2018.
 
"Kita akan coba panggil lagi, mungkin dia masih berhalangan karena apa, kita tidak tahu. Kita persuasif saja," kata Jaksa Agung M Prasetyo di Kejagung, Jakarta Selatan, Jumat, 31 Agustus 2018.
 
Prasetyo berharap Karen memenuhi panggilan penyidik. Karena panggilan untuk penegakan hukum wajib diutamakan. Apalagi, ini merupakan panggilan ketiga buat Karen.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kita harapkan agar kalau dia dipanggil ada kesadaran untuk hadirlah," ucapnya.
 
Baca:Kejagung Kirim Tim ke Australia Terkait Kasus Karen
 
Kejagung juga telah menahan eks Direktur Keuangan PT Pertamina (Persero) Frederik Siahaan pada Kamis, 30 Agustus 2018. Penahanan itu, kata Prasetyo untuk membuktikan kasus tersebut terus dituntaskan.
 
"Kita tidak sembarangan. Kita ingin penanganan kasus ini cermat, obyektif dan proporsional, semuanya terukur," terangnya.
 
Selain Frederik, tersangka lainnya yakni mantan Manager Merger dan Investasi pada Direktorat Hulu PT Pertamina (Persero) Bayu Kristanto juga sudah ditahan.
 
Kasus tersebut terjadi pada 2009. Saat itu, Pertamina melalui anak perusahaannya, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) mengakuisisi saham sebesar 10% terhadap ROC Oil Ltd untuk menggarap Blok BMG.
 
Perjanjian dengan ROC Oil atau Agreement for Sale and Purchase -BMG Project diteken pada 27 Mei 2009. Nilai transaksinya mencapai US$31 juta.
 
Akibat akuisisi tersebut, Pertamina harus menanggung biaya yang timbul lainnya (cash call) dari Blok BMG sebesar US$26 juta. Melalui dana yang dikeluarkan setara Rp568 miliar itu, Pertamina berharap Blok BMG bisa memproduksi minyak hingga 812 barrel per hari.
 
Namun Blok BMG hanya menghasilkan minyak mentah untuk PHE Australia Pte Ltd rata-rata sebesar 252 barel per hari. Pada 5 November 2010, Blok BMG ditutup, setelah ROC Oil memutuskan penghentian produksi minyak mentah. Alasannya, blok ini tidak ekonomis jika diteruskan produksi.
 
Investasi yang sudah dilakukan Pertamina akhirnya tidak memberikan manfaat maupun keuntungan dalam menambah cadangan dan produksi minyak nasional. Akibatnya, muncul kerugian keuangan negara dari Pertamina sebesar US$31 juta dan US$26 juta atau setara Rp568 miliar.
 

(AZF)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif