Ilustrasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Media Indonesia.
Ilustrasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Media Indonesia.

KPK 'Garap' Komisaris Mitratech Andal Sinergi

Nasional kasus suap impor ikan
Juven Martua Sitompul • 10 Desember 2019 11:48
Jakarta: Komisaris PT Mitratech Andal Sinergia Lisa Rosmalia dipanggil penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Lisa diperiksa sebagai saksi kasus dugaan suap impor ikan 2019.
 
“Yang bersangkutan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka RSU (Direktur Utama Perum Perindo Risyanto Suanda),” kata juru bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Jakarta, Selasa, 11 Desember 2019.
 
Penyidik juga memanggil Komisaris PT Megakon Amanah Sakti Namira Rahmatul Umah, Kepala Divisi Sales Perum Perindo Aslam Basir, dan pihak swasta Adi Susilo.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Ketiganya akan diminta keterangan untuk tersangka yang sama,” kata Febri.
 
KPK menetapkan Risyanto sebagai tersangka bersama Direktur Utama PT Navy Arsa Sejahtera (PT NAS) Mujib Mustofa. Risyanto selaku pucuk pimpinan Perum Perindo yang berwenang mengajukan kuota diduga membantu PT NAS mendapat proyek impor ikan.
 
Ihwal kongkalikong pengurusan proyek berawal saat seorang mantan pegawai Perum Perindo mengenalkan Mujib dengan Risyanto. Setelah perkenalan itu, Mujib dan Risyanto membicarakan kebutuhan impor.
 
Mujib dan Risyanto kembali bertemu pada Mei 2019. Risyanto sepakat memberikan 250 juta ton dari kuota impor Perum Perindo yang disetujui Kementerian Perdagangan kepada Mujib.
 
Setelah 250 ton ikan berhasil diimpor PT NAS, ikan-ikan tersebut dikarantina dan disimpan di cold storage milik Perum Perindo. Berdasarkan keterangan Mujib, hal ini dilakukan untuk mengelabui otoritas berwenang agar seolah-olah yang melakukan impor Perum Perindo.
 
Mujib kembali bertemu Risyanto di salah satu lounge hotel di Jakarta Selatan pada 16 September 2019. Dalam pertemuan tersebut, Risyanto menanyakan kesanggupan Mujib menyiapkan kuota impor ikan tambahan sebesar 500 ton untuk Oktober 2019.
 
Pada pertemuan itu juga, Risyanto meminta uang sebesar US$30 ribu atau setara Rp400 juta lebih kepada Mujib untuk keperluan pribadi. Risyanto meminta Mujib menyerahkan uang tersebut melalui Adhi Susilo yang menunggu di lounge hotel yang sama.
 
Risyanto dan Mujib kembali bertemu pada 19 September 2019. Pertemuan digelar di salah satu kafe di Jakarta Selatan. Mujid menyampaikan daftar kebutuhan impor ikan kepada Risyanto dalam bentuk tabel berisi Informasi jenis ikan dan jumlah, termasuk komitmen fee yang akan diberikan kepada pihak Perum Perindo untuk setiap kilogram ikan impor.
 
Mujib selaku penyuap disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
 
Risyanto selaku penerima suap dijerat dengan Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001.
 

(DRI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif