Billy Sindoro-Bupati Bekasi Bahas Pembangunan RS Siloam

Juven Martua Sitompul 06 November 2018 03:33 WIB
kasus suapOTT Pejabat Bekasi
Billy Sindoro-Bupati Bekasi Bahas Pembangunan RS Siloam
Direktur Operasional Lippo Group Billy Sindoro tiba di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta. Foto: Pius Erlangga/MI
Jakarta: Direktur Operasional Lippo Group Billy Sindoro mengakui pernah melakukan pertemuan dengan Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin. Petinggi Lippo Group itu bertemu Neneng sebanyak dua kali.

Pertemuan pertama terjadi saat Neneng melahirkan. Pada pertemuan itu, keduanya tak pernah membahas bisnis, khususnya soal pembangunan Meikarta.

Namun, pada pertemuan kedua, tepatnya di sebuah hotel, Billy mempertanyakan kelanjutan pembangunan Rumah Sakit (RS) Siloam di Meikarta. Menurut Billy, ada banyak orang yang ikut dalam pertemuan kedua itu.


"Ada RS kecil dulu, CSR (dana sosial perusahaan) untuk wilayah itu, karena RS kecil ukuran kelas C dan kelas D itu melalui izin Bupati (Bekasi) jadi saya tanya," kata Billy di Gedung KPK, Jakarta, Senin, 5 November 2018.

Kendati mengakui telah melakukan dua kali pertemuan, Billy membantah pernah membahas soal uang suap. Dia mengklaim pertemuan dilakukan untuk menanyakam respon Neneng terkait pembangunan RS Siloam tersebut.

Menurut Billy, sepanjang pemeriksaan ada 29 pertanyaan yang dilayangkan penyidik. Sayangnya, dia tak merinci materi pemeriksaan tersebut. "Yang terpenting (pertanyaannya) seperti yang media pernah tanyakan kepada saya terakhir di sini," pungkasnya.

Meikarta merupakan salah satu proyek prestisius milik Lippo Group. Penggarap proyek Meikartaialah PT Mahkota Sentosa Utama, yang merupakan anak usaha dari PT Lippo Cikarang Tbk. Sementara PT Lippo Cikarang Tbk adalah anak usaha PT Lippo Karawaci Tbk.

Secara keseluruhan, nilai investasi proyek Meikarta ditaksir mencapai Rp278 triliun. Meikarta menjadi proyek terbesar Lippo Group selama 67 tahun grup bisnis milik Mochtar Riady itu berdiri.

Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin ditetapkan sebagai tersangka bersama Direktur Operasional Lippo Group Billy Sindoro. Keduanya ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap pengurusan izin proyek pembangunan Meikarta.

Penyidik KPK juga menetapkan tujuh tersangka lain. Mereka di antaranya, dua konsultan Lippo Group yaitu Taryadi dan Fitra Djaja Purnama, serta Pegawai Lippo Group Henry Jasmen.

Kemudian, Kepala Dinas PUPR Bekasi Jamaludin, Kepala Dinas Damkar Bekasi Sahat ‎MBJ Nahar, Kepala Dinas DPMPTSP Bekasi Dewi Tisnawati, serta Kepala Bidang Tata Ruang Dinas PUPR Bekasi Neneng Rahmi.

Neneng Hasanah dan anak buahnya diduga telah menerima hadiah atau janji dari Lippo Group terkait pengurusan perizinan proyek pembangunan Meikarta di Bekasi. Proyek yang akan digarap itu seluas 774 hektare dan dibagi dalam tiga tahapan.

Sejauh ini pemberian yang telah terealisasi untuk Neneng Hasanah dan anak buahnya sebanyak Rp7 miliar. Uang itu diberikan Lippo Group kepada Neneng Hasanah melalui para kepala dinas.



(AGA)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id