Pelarungan di kapal nelayan Tiongkok yang dilaporkan oleh media Korsel, MBC/Dok. MBC
Pelarungan di kapal nelayan Tiongkok yang dilaporkan oleh media Korsel, MBC/Dok. MBC

Dugaan Eksploitasi ABK WNI Dilaporkan ke PBB

Nasional ABK WNI
Nur Azizah • 14 Mei 2020 15:34
Jakarta: Pemerintah Indonesia melaporkan dugaan eksploitasi anak buah kapal (ABK) asal Indonesia di Kapal Tiongkok Long Xing 629 ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) PBB diminta memberi perhatian pada kasus ini.
 
"Pemerintah serius mengusut dugaan eksploitasi ABK asal Indonesia," kata juru bicara presiden bidang hukum, Dini Purwono, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis, 14 Mei 2020.
 
Menurut dia, Dewan HAM PBB harus memperhatikan kasus eksploitasi industri perikanan ini. Sebab industri tersebut menjadi salah satu sumber pangan dan pasokan global.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di dalam negeri, Dini menyebut Direktorat Tindak Pidana Umum Badan Reserse Kriminal Kepolisian RI sudah mengusut kasus tersebut. Polisi memeriksa pihak penyalur tenaga kerja yang diduga melakukan tindak pidana perdagangan orang (TPPO).
 
"Kepolisian akan menelusuri pihak penyalur tenaga kerja tersebut," kata Dini.
 
Baca:Polisi Kantongi Tiga Bukti Perdagangan Manusia ABK WNI
 
Media Korea Selatan (Korsel) MBC News pertama kali melaporkan dugaan eksploitasi sejumlah ABK asal Indonesia di kapal nelayan milik Tiongkok. Dalam laporan stasiun televisi Korsel tersebut, beberapa ABK asal Indonesia itu sakit dan meninggal. Jasad mereka kemudian dilarung ke laut.
 
Berdasarkan pengakuan WNI yang bekerja di sana, mereka dipaksa bekerja berdiri selama 30 jam sehari untuk menangkap ikan. "Waktu kerjanya, kita berdiri 30 jam. Setiap enam jam makan. Di jam makan itu, kami memanfaatkannya untuk duduk," kata seorang ABK WNI.
 
Para WNI tersebut mengakui mereka didiskriminasi. Misalnya, mereka diminta minum dengan air laut yang disuling. Padahal, para ABK Tiongkok minum air botolan dari darat.
 
WNI mengaku setiap minum air tersebut langsung merasa sakit. Para ABK WNI juga mengaku hanya menerima US$120 atau sekitar Rp1,8 juta untuk bekerja di laut selama setahun lebih.
 
Tiga WNI dilaporkan meninggal di kapal tersebut karena menerima perlakuan buruk. Dalam video yang diperoleh MBC, terlihat jasad WNI dimasukkan ke dalam peti lalu dilarung ke laut.
 

(ADN)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif