Juru bicara KPK Febri Diansyah. Foto: MI/Susanto.
Juru bicara KPK Febri Diansyah. Foto: MI/Susanto.

KPK Garap Dirut Merial Esa

Nasional suap di bakamla
Juven Martua Sitompul • 01 Juli 2019 12:10
Jakarta: Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggilDirektur Utama (Dirut) PT Merial Esa, Syukri Gunawan. Dia diperiksa sebagai saksi kasus dugaan suap terkait proses pembahasan dan pengesahan anggaran proyek satelit monitoring di Badan Keamanan Laut (Bakamla).
 
"Yang bersangkutan akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka korporasi PT Merial Esa," kata juru bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Jakarta, Senin, 1 Juli 2019.
 
Penyidik juga memanggil artis Inneke Koesherawati, yang merupakan istri dari Fahmi Darmawansyah, tiga pihak swasta yakni Danang Sriradityo Hutomo, Siti Sriyati Mutiah dan Atras Mafazi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Keterangan para saksi dibutuhkan untuk melengkapi berkas penyidikan PT Merial Esa," ujarnya.
 
KPK telah membekukan uang senilai Rp60 miliar dari rekening PT Merial Esa. Pembekuan uang tersebut merupakan bagian dari upaya KPK mengejar keuntungan yang diperoleh PT Merial Esa dalam menggarap proyek satelit monitoring di Bakamla.
 
PT Merial Esa ditetapkan sebagai tersangka korporasi dalam kasus ini. PT Merial Esa diduga secara bersama-sama atau memberikan serta menjanjikan sesuatu kepada penyelenggara negara terkait proses pembahasan dan pengesahan anggaran dalam APBN‎-P tahun 2016 untuk Bakamla.
 
Komisaris PT Merial Esa, Erwin Sya'af Arief, yang sudah ditetapkan sebagai tersangka diduga berkomunikasi dengan Anggota Komisi I DPR RI‎, Fayakhun Andriadi agar mengupayakan proyek satelit monitoring di Bakamla masuk APBN-P 2016.
 
Erwin menjanjikan fee tambahan untuk Fayakhun Andriadi jika meloloskan permintaannya. Total komitmen fee dalam proyek ini yaitu 7 persen dan 1 persen di antaranya untuk Fayakhun Andriadi.
 
Sebagai realisasi commitment fee, Direktur PT Merial Esa, Fahmi Darmawansyah, memberikan uang kepada Fayakhun Andriadi sebesar USD911.480 atau setara sekitar Rp12 miliar yang dikirim secara bertahap sebanyak empat kali melalui rekening di Singapura dan Guang Zhou China.
 
PT Merial Esa disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 ‎Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP atau Pasal 56 KUHP.
 

(AZF)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif