Kepala Staf Presiden RI Teten Masduki (kanan) bersama Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid (kiri). Foto: Antara/Fendi.
Kepala Staf Presiden RI Teten Masduki (kanan) bersama Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid (kiri). Foto: Antara/Fendi.

Survei Wahid Foundation, 11 Juta Muslim Indonesia Berpotensi Radikal

Nasional radikalisme
Media Indonesia • 02 Agustus 2016 08:02
medcom.id, Bogor: Mayoritas muslim di Indonesia atau 72% menolak tindakan radikalisme. Namun, 7,7% menyatakan bersedia berpartisipasi dan 0,4% responden mengaku pernah berpartisipasi dalam kegiatan yang berpotensi melibatkan kekerasan atas nama agama.
 
Hal itu terungkap dari hasil survei yang dilakukan Wahid Foundation atas potensi radikalisme dan intoleransi soisal, keagamaan di kalangan muslim Indonesia.
 
"Dari sisi potensi cukup mengkhawatirkan. Proyeksi terhadap sekitar 150 juta muslim Indonesia, 7,7% atau 11,5 juta orang berpotensi bertindak radikal dan 0,4% atau 600 ribu pernah terlibat. Meski ini bukan angka faktual, harus mendapat perhatian," kata Manajer Riset Wahid Foundation Aryo Adi Nugroho, dalam pemaparan hasil risetnya di Bogor, Jawa Barat, kemarin.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tindakan radikal itu, kata Aryo, berupa penyisiran (sweeping), berdemonstrasi menentang kelompok yang dinilai menodai dan mengancam kesucian Islam atau melakukan penyerangan terhadap rumah ibadah pemeluk agama lain.
 
Faktor yang berpengaruh secara langsung terhadap kecenderungan intoleransi dan radikalisme terutama ialah pemahaman agama Islam yang bersifat literalis atau harfiah. "Apalagi jika pemahaman tersebut diberi ruang publik dalam bentuk ceramah atau pengajaran keislaman," ungkapnya.
 
Direktur Wahid Foundation Yenny Zannuba Wahid mengatakan, survei itu dilakukan pihaknya karena kegelisahan. "Untuk memetakan persepsi intoleransi dan kecenderungan radikalisme umat Islam di Indonesia. Selain itu, sekaligus membantu kami dalam mengidentifikasi faktor-faktor sosial keagamaan yang memengaruhi persepsi intoleransi dan radikalisme di masayarakat," ujar Yenny.
 
Yenny menjelaskan, dari hasil survei juga terungkap bahwa korelasi antara faktor pendidikan, wilayah tempat tinggal (kota atau desa), dan pendapatan di satu sisi dan tindakan radikalisme sisi lain tidak ada.
 
Pancasila dan UUD 1945
 
Hasil survei yang juga memaparkan 74,5% responden menganggap demokrasi masih merupakan bentuk pemerintahan yang paling baik. Sebanyak 82,3% responden menyatakan Pancasila dan UUD 1945 ialah dasar yang terbaik untuk kehidupan berbangsa dan bernegara.
 
Aryo menyebutkan survei itu dilakukan bekerja sama dengan Lembaga Survei Indonesia (LSI) dengan melibatkan 1.520 responden dari seluruh Indonesia atau di 34 provinsi pada periode April-Mei 2016.
Selain peluncuran hasil survei, acara dilanjutkan dengan Halaqah Ulama serta Tokoh Muda Islam Indonesia. Hadir dalam acara pembukaan, Kepala Kantor Staf Kepresidenan Teten Masduki, Bradley Amrmstrong PSM, Minister Counsellor Politicical and Diplomacy dari Kedutaan Australia.
 
Teten mengatakan akan melapirkan hasil survei yang dilakukan Wahid Foundation kepada Presiden Joko Widodo. "Pasti akan saya sampaikan ke Presiden. Ini penting dan akan jadi bahan pertimbangan pemerintah, Presiden untuk membuat kebijakan-kebijakan," kata Teten.
 

(FZN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif