Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Nasabah Minta Bareskrim Sita Seluruh Aset Tersangka Kasus Indosurya

Rahmatul Fajri • 24 Mei 2022 00:35
Jakarta: Pengacara nasabah Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Indosurya Cipta Ruth M Simamora meminta Bareskrim Polri menelusuri dan menyita aset para tersangka penipuan, penggelapan, dan pencucian uang. Berdasarkan informasi yang diperoleh, Bareskrim Polri baru menyita aset para tersangka senilai Rp2 triliun.
 
"Hingga saat ini nilai aset yang disita baru hanya sebesar Rp2 triliun, padahal total nilai kerugian yang diderita oleh para korban secara keseluruhan adalah sebesar Rp15,9 triliun," ujar Ruth dalam konferensi pers, Senin, 23 Mei 2022.
 
Ruth meminta penydik lebih giat lagi menelusuri aset tersangka, baik yang bergerak maupun tidak bergerak. Selain itu, ia meminta kepolisian transparan terkait penelusuran yang telah dilakukan bersama Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Akan menjadi baik dan berguna jika informasi kepada publik, khususnya kepada korban dapat disampaikan dengan teratur dan konsisten dalam sebuah rilis resmi," ujar dia.
 
Ia mengatakan dengan penyampaian informasi tersebut, korban dapat mengetahui perkembangan perkara dengan cepat dan transparan. Ia mengatakan hal ini sangat penting untuk diketahui korban.
 
"Apakah terdapat kendala? Apakah membutuhkan informasi ataupun hal yang lebih besar agar penyidik Bareskrim berani mengambil tindakan? Khususnya pada penyitaan aset, baik yang ada di dalam negeri maupun di luar negeri," papar dia.
 
Baca: Polri Sita Aset Bernilai Rp2 Triliun Terkait Kasus Indosurya
 
Bareskrim Polri telah menetapkan 3 petinggi KSP Indosurya Cita sebagai tersangka dalam kasus dugaan penipuan, penggelapan, dan pencucian uang. Ketiganya, Direktur Operasional Suwito Ayub (SA), Ketua Henry Surya (HS), dan Direktur Keuangan June Indria (JI).
 
Polri telah menahan Henry Surya dan June Indria. Sedangkan, Suwita Ayub masih buron dan namanya masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).
 
Kasus ini berawal dari penghimpunan dana diduga secara ilegal menggunakan badan hukum Koperasi Simpan Pinjam Indosurya Inti/Cipta yang dilakukan sejak November 2012 sampai dengan Februari 2020. Tersangka Henry Surya diduga menghimpun dana dalam bentuk simpanan berjangka dengan memberikan bunga 8–11 persen.
 
Kegiatan tersebut dilakukan di seluruh wilayah Indonesia dengan tanpa dilandasi ijin usaha dari OJK. Kegiatan itu berakibat gagal bayar.
 
(AGA)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif