Rilis penembakan enam eks laskar FPI. Antara/Sigid Kurniawan.
Rilis penembakan enam eks laskar FPI. Antara/Sigid Kurniawan.

Polisi Diminta Usut Tuntas Kepemilikan Senjata Eks Laskar FPI

Nasional polri fpi Muhammad Rizieq Shihab
Media Indonesia.com • 10 Januari 2021 05:56
Jakarta: Kepolisian diyakini mampu mengusut tuntas kasus penembakan enam eks laskar Front Pembela Islam (FPI). Khususnya tekait kepemilikan senjata api yang disebut milik eks pengawal Rizieq Shihab tersebut.
 
"Kita lihat saja seperti apa. Kalau ditetapkan tersangka siapa tersangkanya. Dari situ kemudian polisi mengembangkan. Kalau, misalnya, ada petinggi FPI bilang enggak punya senjata, ya itu kan terbantahkan," kata Anggota Komisi III dari Fraksi PDIP Trimedya Panjaitan kepada wartawan, Jakarta, Sabtu, 9 Januari 2020.
 
Hasil investigasi Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyatakan eks laskar FPI yang bentrok dengan polisi di KM 50 Tol Jakarta-Cikampek membawa senjata api. Trimedya berpendapat hasil investigasi Komnas HAM hampir sama dengan pernyataan Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran bahwa peristiwa tersebut terjadi karena eks laskar FPI menyerang polisi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ya mereka (eks laskar FPI) mungkin menyadari diikuti. Karena kan waktu itu Rizieq (pemimpin FPI Rizieq Shihab) mau dipanggil tapi dia kan menghilang," tutur Trimedya.
 
Trimedya yakin polisi tidak bertindak gegabah. Artinya, kecil kemungkinan polisi menembak eks laskar FPI kalau tidak mendapat serangan lebih dulu. Jika polisi menyerang lebih dulu, menurut dia risikonya tentu akan sangat berat.
 
"Biar fakta-fakta hukum saja yang berbicara. Tentu itu semuanya akan diungkapkan di persidangan. Seperti saya bilang tadi, tidak mungkin untuk urusan seperti ini polisi tidak profesional," ucap Trimedya.
 
Sementara itu, pakar hukum Universitas Indonesia Indriyanto Seno Adji mengatakan temuan Komnas HAM harus ditindaklanjuti secara tuntas, terutama terkait penyerangan ke polisi. Menurut dia, proses hukum akan mengungkap penyerangan itu karena suruhan atau eks laskar FPI bergerak sendiri.
 
Baca: Kapolri Diyakini Menindaklanjuti Temuan Komnas HAM
 
Pemilik senjata api yang digunakan eks laskar FPI juga perlu diusut. Jadi, kata Indriyanto, pengungkapan peristiwa di KM 50 harus dilakukan secara utuh. Indriyanto mengatakan kematian eks laskar FPI adalah dampak atau akibat dari serangan terlebih dahulu terhadap polisi.
 
"Karenanya kedua masalah tersebut sebagai bagian tidak terpisahkan," kata dia.
 
Selama investigasi, Komnas HAM memeriksa sejumlah saksi, baik dari pihak FPI, keluarga korban, kepolisian, dan Jasa Marga. Komnas HAM juga merekonstruksi insiden bentrok di KM 50 di Kantor Komnas HAM, Jakarta.
 
Dalam prosesnya, Komnas HAM menemukan bahwa FPI mencegat atau memepet mobil polisi hingga terjadi baku tembak. Mereka menduga mobil itu ditumpangi personel Badan Intelijen Negara (BIN).
 
Komisioner Komnas HAM Choirul Anam menyatakan ada dugaan anggota FPI menggunakan senjata api rakitan saat baku tembak. Komnas HAM merekomendasikan pengusutan lebih lanjut dugaan kepemilikan senjata api tersebut.
 
"Mengusut lebih lanjut kepemilikan senjata api yang diduga digunakan oleh Laskar FPI," kata Choirul beberapa waktu lalu.
 
(JMS)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif