NEWSTICKER
Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi. Antara/Hafidz Mubarak
Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi. Antara/Hafidz Mubarak

Rasuah di Garuda Indonesia Diselisik Lewat Swasta

Nasional emirsyah satar tersangka
Fachri Audhia Hafiez • 16 Maret 2020 12:11
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meneruskan penyidikan kasus dugaan suap pengadaan mesin dan pesawat Airbus S.A.S dan Rolls-Royce pada PT Garuda Indonesia (Persero). Penyidik memanggil dua pihak swasta, Dian Ayu Miko Saputri dan Angelia Tania, sebagai saksi.
 
"Yang bersangkutan diperiksa untuk HS (Hadinoto Soedigno, Direktur Teknik dan Pengelolaan Armada PT Garuda Indonesia (Persero) 2007-2012," kata pelaksana tugas (Plt) juru bicara KPK Ali Fikri saat dikonfirmasi, Jakarta, Senin, 16 Maret 2020.
 
Belum diketahui keterangan yang akan digali penyidik kepada kedua saksi tersebut. Kuat dugaan keterangan keduanya untuk mendalami dugaan rasuah pengadaan pesawat di perusahaan pelat merah tersebut.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hardinoto ditetapkan sebagai tersangka sejak 7 Agustus 2019. Penetapan tersangka berdasarkan pengembangan rasuah yang diduga dilakukan Direktur Utama Garuda Indonesia periode 2005-2014, Emirsyah Satar (ESA).
 
Emirsyah diduga menerima suap dari pendiri PT Mugi Rekso Abadi (MRA), Soetikno Soedarjo, EUR1,2 juta dan US$180 ribu atau setara Rp20 miliar. KPK menyebut uang suap yang diberikan Soetikno kepada Emirsyah dan Hadinoto tidak hanya dari perusahaan Airbus SAS dan Rolls-Royce.
 
Baca:KPK Semakin Yakin BIsa Buktikan Emirsyah Menerima Gratifikasi
 
Ada juga kontrak pembelian pesawat ATR 72-600 dengan perusahaan Avions de Transport Regional (ATR). Kontrak pembelian pesawat Bombardier CRJ 1.000 dengan perusahaan Bombardier Aerospace Commercial Aircraft.
 
Selaku konsultan bisnis dari Rolls-Royce, Airbus, dan ATR, Soetikno diduga menerima komisi dari tiga pabrikan tersebut. Soetikno juga diduga menerima komisi dari perusahaan Hong Kong, Hollingsworth Management Limited International Ltd (HMI), yang menjadi sales representative dari perusahaan Bombardier.
 
Pembayaran komisi tersebut diduga terkait keberhasilan Soetikno membantu tercapainya kontrak antara Garuda Indonesia dan empat pabrikan tersebut. Soetikno selanjutnya memberikan sebagian dari komisi tersebut kepada Emirsyah dan Hadinoto.
 
Emirsyah sudah berstatus terdakwa. Perkaranya berjalan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta.
 

(AZF)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif