Ilustrasi: Medcom.id
Ilustrasi: Medcom.id

Tiga Tersangka Baru Kepemilikan Zat Radioaktif

Nasional nuklir batan
Siti Yona Hukmana • 14 Agustus 2020 07:39
Jakarta: Polisi menemukan dua badan usaha yang diduga memanfaatkan zat radioaktif tanpa izin, yakni Koperasi Jasa Keselamatan Radiasi dan Lingkungan (JKRL) dan PT Indonesia Power Unit Pembangkitan Suralaya. Dari kedua badan usaha itu, polisi menetapkan tiga tersangka baru.
 
"Dari JKRL ada dua tersangka B dan kawannya, sementara dari Indonesia Power satu orang tersangka inisial S," kata Kepala Subdirektorat (Kasubdit) II Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipidter) Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri Komisaris Besar (Kombes) Wisnu Hermawan di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis, 13 Agustus 2020.
 
Menurut dia, pengungkapan kasus ini berawal atas inspeksi Bareskrim bersama Badan Tenaga Nuklir (Batan) dan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) ke perusahaan-perusahaan yang diduga memiliki bahan-bahan nuklir dengan radiasi tinggi tanpa izin. PT Indonesia Power didapati memanfaatkan zat radioaktif yang sudah kedaluwarsa pada 27 Juli 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ditemukan adanya bahan radioaktif tanpa izin, setelah habis masa pakainya dilimbahkan, seharusnya melalui Bapeten ke Batan namun menggunakan suatu yang tidak ada izinnya," ujar Wisnu.
 
Sebulan kemudian, pada 13 Agustus 2019, Bareskrim bersama Batan dan Bapeten menjalankan inspeksi lanjutan. Kemudian, petugas menemukan kasus serupa di Koperasi JKRL.
 
"Ditemukan lima zat radioaktif," ucap dia.
 
Wisnu menegaskan seluruh perusahaan yang memanfaatkan, menyimpan, menggunakan dan melimbahkan zat radioaktif wajib memiliki izin. Aturan dalam pemanfaatan bahan berbahaya itu terdapat dalam Undang-Undang Nomor 10 tahun 1997 tentang Ketenaganukliran dan diperjelas dengan Peraturan Pemerintah Nomor 61 tahun 2013 tentang Pengelolaan Limbah Radioaktif.
 
Kepala Biro Hukum, Humas, dan Kerja Sama, Batan, Heru Umbara, mengatakan barang bukti radioaktif telah disita. Bahan berbahaya itu ditempatkan di Pusat Teknologi Limbah Radioaktif.
 
"Barang bukti sudah aman, tidak akan menyebabkan bahaya kepada masyarakat, itu hal yang kita prioritaskan," tutur dia.
 
Baca: Pemilik Zat Radioaktif Segera Disidang
 
Ketiga tersangka dijerat Pasal 42 dan 43 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran. Mereka terancam hukuman dua tahun dan denda maksimal Rp100 juta.
 
Sebelumnya, polisi juga menemukan zat radioaktif sesium Cs-137 di kediaman mantan pegawai Batan, SM. Dia telah ditetapkan sebagai tersangka dan segera disidang.
 
(OGI)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif