Sidang dakwaan enam aktivis Papua yang diduga melakukan makar. - Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez
Sidang dakwaan enam aktivis Papua yang diduga melakukan makar. - Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez

Enam Aktivis Papua Didakwa Melakukan Makar

Nasional kasus makar
Fachri Audhia Hafiez • 20 Desember 2019 02:30
Jakarta: Enam aktivis Papua Paulus Suryanta Ginting, Charles Kossay, Ambrosius Mulait alias Ambo, Isay Wenda, Anes Tabuni dan Arina Elopere alias Wenebita Gwijangge didakwa melakukan makar. Pembacaan surat dakwaan keenam terdakwa dilakukan secara terpisah.
 
"Para terdakwa sebagai orang yang melakukan atau turut serta melakukan perbuatan yaitu makar dengan maksud supaya seluruh atau sebagian wilayah negara jatuh ke tangan musuh atau memisahkan sebagian dari wilayah negara," kaya Jaksa Penuntut Umum Permana di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jalan Bungur Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis, 19 Desember 2019.
 
Jaksa menjelaskan, awalnya pada hari 18 Agustus 2019 sekitar pukul 18.00 WIB, bertempat di Asrama Jayawijaya daerah Lenteng Agung, Jakarta Selatan, para terdakwa bersama beberapa koordinator wilayah (korwil) dan anggota persatuan mahasiswa dan pemuda melakukan pertemuan. Mereka menyepakati untuk melakukan aksi atas insiden dugaan rasisme di Surabaya terhadap masyarakat Papua.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kemudian pada 22 Agustus 2019 para terdakwa bersama massa berjumlah sekira 100 orang menggelar aksi unjuk rasa di depan Mabes TNI AD dan Istana Negara, Jakarta Pusat. Mereka menyuarakan menolak rasisme, menyuarakan referendum dan kemerdekaan Papua.
 
Para terdakwa melakukan aksinya dengan cara membuka baju, mengibarkan bendera bintang kejora dan melukis wajah serta tubuh mereka.
 
Kemudian pada 25 Agustus 2019, para terdakwa melakukan pertemuan untuk merencanakan aksi yang lebih besar lagi. Dalam rapat tersebut para terdakwa menyusun rencana aksi.
 
Charles Kossay ditunjuk sebagai koordinator lapangan, Ambrosius Mulait alias Ambo sebagai humas, dan Isay Wenda sebagai penanggung jawab aksi. Untuk membantu koordinasi aksi, para terdakwa juga membuat WhatsApp Group yang dinamai 'Monyet Papua Jakarta'.
 
Pada 28 Agustus 2019 para terdakwa bersama beberapa orang korwil serta anggota persatuan mahasiswa dan pemuda Papua yang berada di Jakarta menggelar aksi di depan Mabes TNI AD dan Istana Negara. Sebanyak 100 orang melakukan aksi unjuk rasa dengan cara melakukan orasi secara bergantian dengan sejumlah tuntutan.
 
Mereka menuntut pemerintah Indonesia melakukan referendum agar Papua memisahkan diri dari NKRI. Kemudian diprosesnya orang-orang yang berbuat rasis terhadap mahasiswa Papua di Surabaya. Massa turut mengibarkan bendera bintang kejora sebagai simbol Papua merdeka.
 
Perbuatan para terdakwa dinilai melanggar pasal 106 ayat (1) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP atau Pasal 110 ayat (1) KUHP.

 

(WHS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif