Nanik Mengaku Lihat Lebam Ratna dari Medsos
Polisi. Ilustrasi: Medcom.id/Mohammad Rizal.
Jakarta: Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2019 Nanik S Deyang membantah menerima foto lebam seniman Ratna Sarumpaet. Dia mengaku hanya melihat foto via media sosial (medsos),

"Bu Nanik itu melihat sudah ada di medsos karena kan waktu itu sudah ada di Twitter, di grup WhatsApp sudah banyak. Dia itu melihat di medsos dan dikonfirmasilah, ternyata memang di Tim sudah ada itu (foto lebam Ratna)," kata Kuasa Hukum Nanik, Martha Dinata alias Ega, kepada Medcom.id, Selasa, 27 November 2018.

Masalah penerimaan foto sedang didalami penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya pada pemeriksaan hari ini. Pemeriksaan kedua kepada Nanik berlangsung cepat. 


Pada panggilan pertama Senin, 15 Oktober 2018, Nanik diperiksa selama lebih kurang 12 jam. "Hari ini cepat ya, cuma 30 menit. Lebih lama menunggu makanan datang dibanding diperiksanya," aku Ega. 

Dia menjelaskan masalah penerimaan foto wajah lebam Ratna sudah ditanyakan penyidik pada pemeriksaan pertama. Pertanyaan itu salah satu dari 30 pertanyaan yang diajukan pada beberapa waktu lalu.

"Kita datang lakukan pemeriksaan ini, mereka (penyidik) tidak ketemu mau tanya apalagi karena tidak ada yang bisa digali akhirnya kita makan-makan saja," jelas  dia. 

Menurut dia, saat diperiksa penyidik, Nanik ditemani lima orang pengacara. Dia mengatakan tidak ada pertanyaan baru yang diajukan penyidik. 

Baca: Rocky Gerung Abaikan Panggilan Polisi

"Lebih kepada klarifikasi pertanyaan kemarin lagi karena ternyata tidak ada tambahan dari Bu Nanik yang diinginkan oleh penyidik. Jadi, enggak ada informasi baru yang bisa membantu," ujar dia.
 
Ratna menjadi tersangka setelah menyebarkan informasi bohong dengan mengaku dianiaya sejumlah orang di Bandung, Jawa Barat pada Selasa, 21 September 2018. Kenyataannya, wajah lebam Ratna karena operasi plastik di Jakarta.
 
Atas kebohongannya, Ratna dijerat Pasal 14 Undang-Undang (UU) Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan Pasal 28 juncto Pasal 45 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Ia terancam hukuman 10 tahun penjara.





(OGI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id