Mantan Ketua DPR Setya Novanto usai diperiksa KPK. (Foto: Medcom.id/Juven Martua Sitompul)
Mantan Ketua DPR Setya Novanto usai diperiksa KPK. (Foto: Medcom.id/Juven Martua Sitompul)

Novanto Berkelit Terlibat Suap PLTU Riau-I

Nasional Korupsi PLTU Riau-1
Juven Martua Sitompul • 14 Mei 2019 17:38
Jakarta: Mantan Ketua DPR Setya Novanto selesai diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Novanto diperiksa sebagai saksi kasus dugaan suap proyek pembangunan PLTU Riau-I untuk tersangka Direktur Utama PLN Sofyan Basir.
 
Novanto yang mengenakan kemeja biru dongker dibalut jaket hitam banyak berkelit saat disinggung sejumlah hal tentang pembahasan PLTU Riau-I. Salah satunya, perihal pertemuan-pertemuan antara Sofyan Basir dengan sejumlah pihak untuk membahas konsorsium penggarap proyek bernilai USD900 juta tersebut.
 
"Enggak pernah, dia cuman cerita menjelaskan program-program 35 ribu MW yang sudah berhasil 27 ribu MW terus perkembangan mengenai PLTG yaitu gas yang sudah lama enggak jalan," kelit Novanto di Gedung KPK, Jakarta, Selasa, 14 Mei 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia juga membantah pernah membicarakan proyek PLTU Riau-I dengan Sofyan Basir. Dalam hal ini meminta Sofyan melapangkan perusahaan Blackgold Natural Resources Limited milik Johannes Budisutrisno Kotjo sebagai konsorsium penggarap PLTU Riau-I.
 
"Jadi saya meluruskan bahwa ndak pernah saya untuk PLTG Riau," katanya.
 
Baca juga:Novanto Jadi Saksi Kasus Suap PLTU Riau-I
 
Nama Novanto berulang kali disebut dalam kasus ini. Mantan Ketua Umum Partai Golkar itu disebut sebagai pihak pertama yang dimintai bantuan oleh pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited Johannes Budisutrisno Kotjo untuk menjalin komunikasi dengan pihak PLN terkait permohonan IPP yang diajukan Blackgold Natural dan anak perusahaannya PT Samantaka Batubara.
 
Permohonan IPP yang diajukan Johannes melalui Direktur PT Samantaka Batubar, Rudy Herlambang tak kunjung ditanggapi PLN sejak Oktober 2015. Menyanggupi permintaan itu, Novanto akhirnya mengenalkan Johannes dengan Wakil Ketua Komisi VII Eni Maulani Saragih.
 
Eni kemudian mengenalkan Johannes dengan Sofyan Basir. Bahkan, Novanto disebut bakal mendapat fee yang sama dengan yang diterima Johannes dari proyek senilai USD900 juta tersebut yakni sebanyak USD6 juta atau 24 persen dari USD25 juta yang merupakan fee Johannes sebagai agen PT China Huadian Engineering Company (CHEC) dalam proyek ini.
 
Sofyan bersama-sama dengan Eni dan mantan Menteri Sosial Idrus Marham diduga membantu memuluskan perusahaan Blackgold Natural Resources Limited milik Johannes sebagai konsorsium penggarap proyek PLTU Riau-I.
 
Keterlibatan Sofyan berawal ketika Direktur PT Samantaka Batubara mengirimi PLN surat, pada Oktober 2015. Surat pada pokoknya memohon PLN memasukkan proyek dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN.
 
Baca juga:Eni Saragih Perkuat Kongkalikong Sofyan Basir
 
Sayangnya, surat tak ditanggapi. Johannes akhirnya mencari bantuan agar dibukakan jalan berkoordinasi dengan PLN untuk mendapatkan proyek Independent Power Producer (IPP) Pembangkit Listnk Tenaga Uap Mulut Tambang Riau-I.
 
Pertemuan diduga dilakukan beberapa kali. Pertemuan membahas proyek PLTU itu dihadiri Eni, Sofyan, dan Johannes. Namun, beberapa pertemuan tak selalu dihadiri ketiga orang tersebut.
 
Selanjutnya pada 2016, Sofyan menunjuk Johannes mengerjakan proyek Riau-I. Sebab, mereka sudah memiliki kandidat mengerjakan PLTU di Jawa.
 
Padahal, saat itu, Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan yang menugaskan PT PLN menyelenggarakan Pembangunan Infrastruktur Kelistrikan (PIK) belum terbit. PLTU Riau-I dengan kapasitas 2x300 MW kemudian diketahui masuk Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN.
 
Johannes meminta anak buahnya siap-siap karena sudah dipastikan Riau-I milik PT Samantaka. Sofyan lalu memerintahkan salah satu Direktur PT PLN merealisasikan PPA antara PLN dengan BNR dan CHEC.
 
Sofyan akhirnya ditetapkan sebagai tersangka. Penetapan tersangka merupakan pengembangan penyidikan Eni, Johannes, dan Idrus Marham yang telah divonis. Eni dihukum enam tahun penjara, Kotjo 4,5 tahun penjara dan Idrus Marham 3 tahun penjara.
 
Sofyan dijerat Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah dlubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsijuncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP atau Pasal 56 ayat (2) KUHP Juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.
 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif