Pemimpin Al Qiyadah, Abdus Salam alias Ahmad Musaddeq. Foto: Antara/Jefri Aris
Pemimpin Al Qiyadah, Abdus Salam alias Ahmad Musaddeq. Foto: Antara/Jefri Aris

Kembali Berulah, `Nabi` Gafatar Ditahan

Nasional gafatar
Nur Azizah • 26 Mei 2016 12:58
medcom.id, Jakarta: Bareskrim Mabes Polri kembali menangkap pimpinan Al-Qiyadah Al-Islamiyah, Ahmad Moshaddeq/Musaddeq/Musadek alias Abdussalam. Musadek ditangkap karena diduga menistakan agama dan merencanakan makar. Ia diringkus bersama dua pimpinan Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), Mahful Muis Tumanurung dan Andri Cahya.
 
Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Agus Andrianto menuturkan, ketiganya ditahan Rabu 25 Mei sekitar pukul 19.30 WIB. Polisi meringkus Musadek setelah mendapat laporan dari masyarakat bernama Muhammad Tahir Mahmud.
 
"Muhammad melaporkan Musadek ke Bareskrim pada 14 Januari 2016 atas kasus penistaan agama," kata Agus saat dihubungi, Jakarta, Kamis (26/5/2016).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Setelah mendapatkan laporan, polisi menggelar penyelidikan di enam provinsi, yakni Jawa Tengah, Jogjakarta, Jakarta, Banten, Kalimantan Barat, dan Jawa Barat. Sebanyak 52 saksi dimintai keterangan.
 
"Diperoleh info bahwa dia bukan saja melakukan penistaan agama tapi juga merencanakan makar. Jadi, kita lakukan penangkapan," ujarnya.
 
Kembali Berulah, `Nabi` Gafatar Ditahan
Gerakan tolak Gafatar. Foto: Antara/Irwansyah.
 
Ahmad Musadek terancam Pasal 155 huruf a dan Pasal 156 huruf b tentang Penodaan Agama dengan tuntutan maksimal lima tahun penjara.
 
Sementara Andri dan Mahful Muis Tamanurung dijerat Pasal 110 ayat 1, Jo 107 ayat 1 dan 2 dengan ancaman hukuman seumur hidup atau 20 tahun.
 
Musadek adalah sosok di balik berdirinya organisasi kemasyarakatan Gafatar. Pada 2007, Musadek pernah dipenjara empat tahun terkait penodaan agama terkait aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah yang dibentuknya.
 
Gafatar di Indonesia berawal dari Al-Qiyadah al-Islamiyah. Yakni sebuah aliran kepercayaan di Indonesia yang melakukan sinkretisme (penggabungan) antara ajaran Al-Quran, Alkitab Injil, dan Yahudi serta wahyu yang diakui kepada pemimpinnya.
 
Musadek menganggap dirinya sebagai nabi atau mesias. Wahyu yang turun pada Musadek diakui bukan kitab melainkan pemahaman yang benar dan aplikatif mengenai ayat-ayat Al-Quran yang menurut Musadek telah disimpangkan sepanjang sejarah.
 
Usai ajaran Musadek berkembang pada 4 Oktober 2007, Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan Fatwa Nomor 4 Tahun 2007 yang menyatakan alira Al-Qiyadah Al-Islamiyah sesat.
 
Setahun setelahnya Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memvonis Musadek empat tahun penjara dipotong masa tahanan.
 
Empat tahun di penjara tak membuat Musadek berhenti. Meski mengaku sudah bertobat, Musadek kembali menyebarkan ajaran Al-Qiyadah Al-Islamiyah. Musadek menggunakan nama lain yaitu Milah Abraham kemudian berubah menjadi Gafatar.
 

(FZN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif