Kejaksaan Agung. Foto: MI
Kejaksaan Agung. Foto: MI

Eks Dirut Krakatau Steel Diperiksa Terkait Korupsi Pembangunan Pabrik Blast Furnace

Siti Yona Hukmana • 28 Juni 2022 07:37
Jakarta: Direktur Utama (Dirut) PT Krakatau Steel periode 2017-2018, MWES, diperiksa terkait kasus korupsi proyek pembangunan pabrik blast furnace (BFC) oleh PT Krakatau Steel pada 2011. Pemeriksan untuk mengetahui kebijakan pendantangan kontrak proyek tersebut.
 
"(Dia) melakukan kebijakan antara lain pada 29 Agustus 2017 melakukan penandatanganan kontrak addendum ketiga dengan konsorsium (MCC Ceri+PT KE) untuk pekerjaan change order pada local portion senilai Rp241.145.409.190," kata Kapuspenkum Kejagung Ketut Sumedana dalam keterangan tertulis, Selasa, 28 Juni 2022.
 
Ketut menyebut total nilai kontrak BFC Project sebesar Rp2.215.424.762.190. Di mana seluruh pekerjaan pada addendum ketiga kontrak telah dikerjakan terlebih dahulu sebelum penandatanganan adenddum ketiga kontrak dilakukan atau sebelum MWES menjabat sebagai Direktur Utama PT Krakatau Steel.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kemudian, pada 19 September 2017, MWES disebut menerbitkan surat keputusan direksi untuk pengoperasian coke oven plant (COP) sebelum adanya serah terima pekerjaan. Lalu, pada 9 Oktober 2017, 14 Februari 2018, dan 29 Agustus 2018, dia melakukan penandatangan perjanjian bridging loan dengan PT KE sejumlah pinjaman baru sebesar Rp31.729.886.583.
 
"Sehingga, jumlah total Bridging Loan yang belum terbayar pada saat yang bersangkutan sebagai Direktur Utama PT KS (Krakatau Steel) sebesar Rp359.253.825.965," kata Ketut.
 

Baca: 3 Manajer Proyek Krakatau Steel Diperiksa Terkait Dugaan Korupsi


Selain Eks Dirut, Kejagung memeriksa Staf pada Bisnis Development PT Krakatau Steel, RH. Dia diperiksa untuk menjelaskan penyerahan harga barang/jasa (HPS) dari Tirta Dirja ke Ketua Pengadaan HPS/OE.
 
Kemudian, memeriksa TD selaku General Manager Planning & Bisnis Development PT Krakatau Steel. Dia diperiksa untuk menggali keterlibatan saat menjabat sebagai Mantan Manager Corporate Planning and Business Development PT Krakatau Steel pada Januari 2008 sampai Oktober 2011.
 
"Untuk menjelaskan mekanisme penentuan HPS/OE untuk proyek Blast Furnace Complex PT KS (Krakatau Steel)," kata Ketut.
 
Pemeriksaan ketiga saksi dilakukan pada Senin, 27 Juni 2022. Pemeriksaan saksi dilakukan untuk memperkuat pembuktian dan melengkapi pemberkasan.
 
Dugaan rasuah di Krakatau Steel terendus setelah ditemukan adanya biaya operasi produksi yang lebih tinggi dari harga baja di pasaran saat uji coba. Sampai Desember 2019, pabrik bernilai kontrak Rp6,921 itu belum 100 persen dibangun.
 
Jaksa Agung Muda bidang Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung belum menetapkan tersangka dalam perkara korupsi pembangunan pabrik blast furnace oleh Krakatau Steel. Penyidik akan melakukan gelar perkara dengan ahli sebelum penetapan tersangka.
 
(JMS)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif