Sidang vonis terdakwa korupsi dalam pengelolaan keuangan dan dana investasi pada PT Asuransi Sosial Bersenjata Republik Indonesia (ASABRI). Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez
Sidang vonis terdakwa korupsi dalam pengelolaan keuangan dan dana investasi pada PT Asuransi Sosial Bersenjata Republik Indonesia (ASABRI). Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez

Lolos dari Hukuman Mati, Hakim Kesampingkan Hal Meringankan Hukuman Heru Hidayat

Fachri Audhia Hafiez • 18 Januari 2022 21:55
Jakarta: Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta tak mempertimbangkan hal meringankan dalam memutus perkara Komisaris Utama PT Trada Alam Minera, Heru Hidayat. Dia divonis nihil hukuman dalam kasus korupsi pengelolaan keuangan dan dana investasi pada PT Asuransi Sosial Bersenjata Republik Indonesia (ASABRI).
 
"Meskipun di persidangan terungkap hal-hal yang meringankan, namun perbuatan tersebut tidak sebanding dengan perbuatan terdakwa. Keadaan meringankan patut dikesampingkan," kata anggota majelis hakim Rosmina di Pengadilan Tipikor, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa, 18 Januari 2022.
 
Sementara itu, hal yang memberatkan hukuman Heru, yakni, perbuatannya merupakan kejahatan extraordinary crime. Artinya, korupsi dapat berdampak pada bangsa dan negara.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lalu, perbuatan Heru tidak mendukung program pemerintah dalam pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Dia telah menyebabkan kerugian keuangan negara lebih dari Rp22 triliun.
 
"Sedangkan, penyitaan aset hanya Rp2 triliun tidak sebanding dengan perbuatan terdakwa. Terdakwa merupakan terpidana kasus korupsi di PT Asuransi Jiwasraya," ucap Rosmina.
 
Heru divonis tanpa hukuman pidana alias nihil. Sebab, Heru sudah dikenakan pidana pada perkara lain yang hukumannya maksimal.
 
Majelis merujuk Pasal 67 KUHP yang mengatur 'Orang yang sudah dijatuhi hukuman penjara seumur hidup tidak boleh dijatuhkan pidana lain lagi kecuali pencabutan hak-hak tertentu'. Kendati demikian, Heru tetap dijatuhi hukuman membayar uang pengganti sebesar Rp12,6 triliun.
 
Majelis hakim menilai kejahatan Heru di kasus ASABRI berulang sejak 2012 sampai 2019. Pengulangan yang dimaksud ialah membeli dan menjual saham yang mengakibatkan kerugian bagi ASABRI.
 
Kerugian keuangan negara dalam kasus ASABRI mencapai Rp22,7 triliun. Atribusi keuntungan yang dinikmati Heru mencapai lebih dari setengahnya, yakni Rp12,6 triliun.
 
Perbuatan Heru juga disebut disengaja dan di luar nalar karena nilai kejahatan mencapai triliunan rupiah. Dia melakukan tindak pidana pencucian uang (TPPU) untuk menutupi hasil kejahatan yang dia lakukan.
 
Heru terbukti melanggar dua pasal, yakni Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Lalu, Pasal 3 UU RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.
 
Baca: Terbukti Korupsi di Kasus ASABRI, Heru Hidayat Divonis Nihil
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif