Juru bicara KPK Febri Diansyah. MI/Rommy Pujianto.
Juru bicara KPK Febri Diansyah. MI/Rommy Pujianto.

KPK Jadwal Ulang Pemeriksaan Nicke Widyawati

Nasional Korupsi PLTU Riau-1
Theofilus Ifan Sucipto • 30 April 2019 02:59
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadwalkan ulang pemeriksaan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati. Nicke akan diperiksa sebagai saksi terkait kasus tindak pidana korupsi kesepakatan kontrak kerja sama pembangunan PLTU Riau-1.
 
"Betul ada penjadwalan ulang. Rencananya pada Kamis 2 Mei 2019," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Senin, 29 April 2019.
 
Nicke akan diperiksa dalam kapasitasnya sebagai mantan pejabat PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Febry berharap Nicke memenuhi panggilan dari lembaga antirasuah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Semoga yang bersangkutan datang dan proses pemeriksaan berjalan lancar," pungkasnya.
 
Selain Nicke, KPK juga memanggil tiga saksi lain untuk tersangka SFB (Dirut nonaktif PT PLN Sofyan Basir). Mereka adalah Direktur Perencanaan Korporat PT PLN Syofvi Felienty Roekman, Senior Vice President Legal Corporate PT PLN Dedeng Hidayat, dan Direktur Bisnis Regional Maluku dan Papua PT PLN Ahmad Rofik
 
Nicke yang seharusnya diperiksa hari ini pernah menjabat beberapa posisi di PT PLN. Dia pernah duduk sebagau direktur niaga dan manajemen risiko PT PLN, direktur perencanaan korporat PT PLN, dan direktur pengadaan strategis 1 PT PLN.
 
Nicke pernah diperiksa KPK pada 17 September 2018 dalam kasus yang sama. Kala itu, dia diminta keterangan untuk dua tersangka: mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Eni Saragih dan mantan Menteri Sosial dan Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham.
 
KPK saat itu mengonfirmasi Nicke terkait pertemuannya dengan Eni dan soal perencanaan proyek pembangunan PLTU Riau-1. Hal ini sehubungan dengan kapasitasnya saat itu sebagai direktur perencanaan PT PLN.
 
Pada Selasa, 23 April 2019, KPK telah menetapkan Sofyan Basir sebagai tersangka. Dia diduga menerima suap dari pemegang saham Blackgold Natural Resources Johannes Budisutrisno Kotjo dalam proyek PLTU Riau-1.
 
Johannes Kotjo sempat mencari bantuan agar diberikan jalan untuk berkoordinasi dengan PT PLN untuk mendapatkan proyek Independent Power Producer (IPP) Pembangkit Listrik Tenaga Uap Mulut Tambang RIAU-1 (PLTU MT RIAU-1). Pertemuan antara Johannes, Eni, dan Sofyan beberapa kali terjadi.
 
Dalam pertemuan, Sofyan telah menunjuk Johannes Kotjo untuk mengerjakan proyek di Riau karena untuk PLTU di Jawa sudah penuh dan sudah ada kandidat. Padahal, Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan yang menugaskan PT PLN menyelenggarakan Pembangunan Infrastruktur Kelistrikan (PIK) kala itu belum terbit.
 
PLTU Riau-1 dengan kapasitas 2x300 MW kemudian masuk dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN. Johannes Kotjo meminta anak buahnya untuk siap-siap karena sudah dipastikan Riau-1 milik PT Samantaka.
 
Setelah itu, Sofyan diduga menyuruh salah satu firektur PT PLN agar power purchase agreement (PPA) antara PLN dengan Blackgold Natural Resources dan China Huadian Engineering Co (CHEC) segera direalisasikan. Sampai dengan Juni 2018, sejumlah pertemuan yang dihadiri sebagian atau seluruh pihak, yaitu Sofyan, Eni, dan Johannes serta pihak lain pun diduga terjadi.

 

(DRI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif