KPK Kembali Periksa Eks Presdir Lippo
Juru Bicara KPK Febri Diansyah. Foto: MI/Rommy Pujianto.
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali memeriksa mantan Presiden Direktur Lippo Cikarang Toto Bartholomeus. Ia diperiksa terkait kasus dugaan suap pengurusan izin proyek Meikarta.
 
"Yang bersangkutan akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka SMN (Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Bekasi Sahat MBJ Nahor)," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah, Jumat, 9 November 2018.
 
KPK ingin menelisik terkait pengurusan izin proyek Meikarta lewat Toto. Pasalnya, PT Lippo Cikarang Tbk adalah induk usaha PT Mahkota Sentosa Utama (MSU) yang menggarap proyek Meikarta.
 
Ini merupakan pemeriksaan kedua terhadap Toto sebagai saksi. Sebelumnya, ia pernah dimintai keterangan sebagai saksi untuk tersangka Direktur Operasional Lippo Group Billy Sindoro.
 
Selain Toto, KPK juga memanggil Kepala Bidang Penyuluhan dan Pencegahan pada Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Bekasi, Asep Buchori. Asep juga diperiksa sebagai saksi untuk tersangka yang sama.
 
KPK terus menelusuri sumber uang suap Meikarta yang diduga berasal dari Lippo Group. Banyak pihak dari Lippo Group yang telah masuk ke ruang penyidikan untuk dimintai keterangan terkait hal ini.
 
Misalnya, Direktur Operasional Lippo Group Billy Sindoro, CEO Lippo Group James Riady. Kemudian, Presiden Direktur PT Lippo Karawaci Tbk Ketut Budi Wijaya, Corporate Affairs Siloam Hospital Group Josep Christoper Mailool, dan Direktur Keuangan PT Lippo Cikarang Tbk Soni dan Direktur Keuangan PT Lippo Karawaci Tbk Richard Setiadi.
 
Teranyar, giliran Direktur Keuangan PT Mahkota Sentosa Utama (PT MSU) Hartono diperiksa penyidik. Melalui Hartono, penyidik lebih banyak mengonfirmasi soal asal uang hingga proses penyuapan.
 
Dari pemeriksaan itu terungkap juga adanya pertemuan-pertemuan antara petinggi Lippo Group dengan Neneng. Salah satunya, James Riady yang mengakui pernah bertemu dengan Neneng dengan alasan silaturahmi persalinan Neneng.

Baca: KPK Gali Peran Tersangka Suap Proyek Meikarta

Bukan hanya James, Eddy Sindoro juga mengaku dua kali bertemu Neneng. Pertemuan pertama dilakukan untuk memberi selamat atas persalinan Neneng. Sedangkan pada pertemuan kedua Eddy dan Neneng membahas soal pembangunan Rumah Sakit (RS) Siloam di Meikarta.
 
Meikarta merupakan salah satu proyek prestisius milik Lippo Group. Penggarap proyek Meikarta ialah PT Mahkota Sentosa Utama, yang merupakan anak usaha dari PT Lippo Cikarang Tbk. Sementara PT Lippo Cikarang Tbk berada di bawah naungan Lippo Group.
 
Secara keseluruhan nilai investasi proyek Meikarta ditaksir mencapai Rp278 triliun. Meikarta menjadi proyek terbesar Lippo Group selama 67 tahun grup bisnis milik Mochtar Riady itu berdiri.
 
Dalam kasus ini, Billy Sindoro diduga memberikan uang Rp7 miliar kepada Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin dan anak buahnya. Uang itu diduga bagian dari fee yang dijanjikan sebesar Rp13 miliar terkait proses pengurusan izin proyek Meikarta.






(FZN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id