Pengamat: Jangan Sebut BIN Kecolongan

Intan Yunelia 20 Mei 2018 07:18 WIB
bin
Pengamat: Jangan Sebut BIN Kecolongan
Kepala BIN Budi Gunawan (kiri) bersama Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian (tengah) dan Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto (kanan). (Foto: Antara).
Jakarta: Pengamat Pertahanan Susaningtyas Kertopati menilai tak tepat bila Badan Intelijen Negara (BIN) dianggap kecolongan akibat teror yang terjadi. Pasalnya, fungsi BIN bukan penindakan.

Menurut Susan, BIN bertugas untuk mengumpulkan informasi saja. "Bukan kita bahas BIN itu kebobolan atau tidak kita melihat nomenklatur dari intelijen itu sendiri. Intelijen tidak masuk rahan represi. Itu adalah penggalian informasi dan data," ucap Susan di Menteng, Sabtu 19 Mei 2018.

Susan melanjutkan, pola kerja BIN mengumpulkan informasi dan data. Data yang didapat diserahkan kepada user dalam hal ini presiden dan penegak hukum. 


"Bisa saja data yang disampaikan kepada penegak hukum tapi tidak ditindak lanjuti. Apakah itu semua kecolongan dan tentu saja tidak," jelas Susan.

Fungsi BIN pun hanya bersifat koordinatif. Dibawahnya ada badan intelijen lainnya. Seperti Baintelkam Mabes Polri, BAIS TNI dan aktor intelijen lainya seperti di imigrasi.

"Jadi apabila dikatakan intelijen itu kecolongan tidak tepat dan harus dilihat kembali UU Nomor 17 itu kewenangan terhadap intelijen itu sangat dibatasi," jelas Susan.

Menurut dia, seseorang melakukan aksi teror karena muncul dari dalam pikirannya yang teradikalisasi. Sementara intelijen hanya memprediksi kapan aksi teror terjadi. 

"Namanya teroris itu ada di dalam mind dan pemikiran. Bagaimana mereka ingin melakukan sesuatu  kegiatan yang dapat menarik perhatian sebenernya teroris kan itu," pungkasnya.



(JMS)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id