Sidang pembacaan vonis empat terdakwa kasus Jiwasraya melalui giant monitor di lobi Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sebagai antisipasi penyebaran virus korona (covid-19). Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez
Sidang pembacaan vonis empat terdakwa kasus Jiwasraya melalui giant monitor di lobi Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sebagai antisipasi penyebaran virus korona (covid-19). Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez

9 Jam Sidang, 3 Eks Petinggi Jiwasraya Divonis Seumur Hidup

Nasional kasus korupsi Jiwasraya
Fachri Audhia Hafiez • 13 Oktober 2020 06:32
Jakarta: Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tuntas membacakan putusan tiga mantan petinggi PT Asuransi Jiwasraya (AJS). Ketiganya, mantan Direktur Utama PT AJS, Hendrisman Rahim; mantan Direktur Keuangan PT AJS, Hary Prasetyo; dan mantan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan PT AJS, Syahmirwan.
 
Para terdakwa dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Hukuman tanpa denda pidana seperti tuntutan jaksa, Rp1 miliar subsider 6 bulan kurungan.
 
"Mengadili, menjatuhkan pidana terhadap terdakwa tersebut dengan hukuman pidana penjara seumur hidup," kata Ketua Majelis Hakim Susanti di Pengadilan Tipikor, Jalan Bungur Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin, 12 Oktober 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Butuh 9 jam untuk menuntaskan pembacaan vonis ketiga orang itu. Termasuk, vonis Direktur Utama PT Maxima Integra, Joko Hartono Tirto, yang juga divonis penjara seumur hidup.
 
Persidangan dimulai sekitar pukul 13.54 WIB. Terlambat nyaris 1 jam dari jadwal yang ditetapkan.
 
Persidangan tampak berbeda dari biasanya. Sebab, Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sejatinya tengah menerapkan 'lockdown'. Penutupan gedung pengadilan imbas lima pegawai di lingkungan pengadilan terinfeksi virus korona (covid-19).
 
Pembacaan putusan dilakukan tujuh hakim yang menangani perkara yang merugikan keuangan negara senilai Rp16,8 triliun itu. Ruang sidang dibatasi kapasitasnya dan memperketat protokol kesehatan.
 
Gantinya, ada monitor raksasa yang memudahkan pengunjung dan awak media memantau jalannya persidangan. Meski, sudah disiapkan secara matang, persidangan tidak selamanya berjalan mulus.
 
Aplikasi zoom meeting sebagai wadah persidangan jarak jauh antara hakim, terdakwa, dan penasihat hukum sempat bermasalah. Zoom meeting eror jelang pembacaan amar putusan.
 
Jalannya persidangan tidak tampakdi giant monitor. Alhasil, pengunjung memadati ruang sidang untuk melihat dan mendengarkan amar putusan. Namun, petugas keamanan meminta sebagian pengunjung keluar guna mencegah kerumunan.
 
"Mohon maaf, tolong di luar saja untuk jaga jarak," ujar salah satu petugas keamanan.
 
Sidang sempat diskorsing beberapa kali untuk menjalani salat maupun memfasilitasi peserta sidang yang 'kebelet' ke toilet. Hakim baru benar-benar mengetok palu menandakan persidangan berakhir sekitar pukul 23.12 WIB. Ketokan palu hakim tanpa menanyakan sikap serta mendengarkan tanggapan terdakwa, penasihat hukum, dan penuntut umum terhadap putusan.
 
"Terhadap putusan tersebut penuntut umum dan terdakwa punya hak yang sama. Bisa menerima putusan, jika tidak sependapat bisa mengajukan banding atau menyatakan pikir-pikir untuk menentukan sikap dengan waktu yang telah ditentukan undang-undang. Oleh karena terhadap perkara ini telah dibacakan putusan, maka pemeriksaan perkara dinyatakan selesai dan sidang ditutup," ujar hakim Susanti.

Pertimbangan berat hukuman

Perbuatan para petinggi PT AJS menjadi pertimbangan hakim menentukan hukuman. Pertimbangan yang memberatkan hukuman terdakwa, yakni tidak mendukung program pemerintah dalam mencegah tindak pidana korupsi.
 
Perbuatan para terdakwa terencana, terstruktur, masif, dan berimplikasi pada kesulitan ekonomi terhadap para nasabah PT AJS. Selain itu, membuat kepercayaan masyarakat menjadi menurun dalam kegiatan asuransi dan pasar modal.
 
"Terdakwa juga tidak merasa bersalah dan tidak pula menunjukkan sikap penyesalan atas perbuatannya," ujar hakim.
 
Seluruh terdakwa dinyatakan terbukti melanggar Pasal 2 Ayat 1 juncto Pasal 18 ayat (1) huruf b, ayat (2) dan ayat (3) Undang-Undang No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

Tersisa dua terdakwa

Perkara ini masih menyisakan dua terdakwa lain yang belum memasuki tahap sidang pembacaan tuntutan. Keduanya ialah Direktur Utama PT Hanson International Tbk, Benny Tjokrosaputro dan Komisaris Utama PT Trada Alam Minera Tbk, Heru Hidayat.
 
Benny dan Heru dinyatakan positif terjangkit covid-19. Jadwal persidangan menunggu kedua terdakwa sehat.
 
"Menunggu kedua terdakwa sehat dan kembali ke rumah tahanan (rutan)," ucap staf humas Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Bambang Nurcahyono.
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif