Ilustrasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Media Indonesia.
Ilustrasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Media Indonesia.

Direktur Operasi Perum Perindo Diperiksa KPK

Nasional kasus suap impor ikan
M Sholahadhin Azhar • 23 Oktober 2019 11:18
Jakarta: Direktur Operasi Perum Perindo Farida Mokodompit masuk dalam daftar pemeriksaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Farida akan diperiksa terkait kasus dugaan suap impor ikan pada 2019.
 
“Yang bersangkutan akan diminta keterangan sebagai saksi untuk tersangka MMU (Direktur Utama PT Navy Arsa Sejahtera Mujib Mustofa),” kata juru bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Jakarta, Rabu, 23 Oktober 2019.
 
Penyidik juga memanggil Kepala Divisi Sales Perum Perindo Aslam Basir. KPK juga telah meminta keterangan Direktur Keuangan Perum Perindo Arief Goentoro, Selasa, 22 Oktober 2019. Keterangan Arief diminta setelah KPK memanggil Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Nilato Perbawo.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


KPK masih mendalami kasus ini, khususnya peran Perum Perindo dalam memberikan jatah impor. KPK telah menetapkan Mujib Mustofa bersama Direktur Utama Perum Perindo Risyanto Suanda sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap impor ikan pada 2019.
 
Risyanto selaku pucuk pimpinan Perum Perindo yang berwenang mengajukan kuota impor ikan diduga membantu PT NAS mendapat proyek impor ikan.
 
Ihwal kongkalikong pengurusan proyek berawal saat seorang mantan pegawai Perum Perindo mengenalkan Mujib kepada Risyanto. Setelah perkenalan itu, Mujib dan Risyanto kemudian membicarakan kebutuhan impor.
 
Mujib dan Risyanto kembali bertemu pada Mei 2019. Risyanto sepakat memberikan 250 ton kuota impor ikan dari total kuota impor Perum Perindo yang disetujui Kementerian Perdagangan.
 
Sebanyak 250 ton ikan yang diimpor PT NAS itu dikarantina dan disimpan di cold storage milik Perum Perindo. Berdasarkan keterangan Mujib, tindakan itu untuk mengelabui otoritas berwenang, seolah yang mengimpor ialah Perum Perindo.
 
Mujib kembali bertemu Risyanto di salah satu lounge hotel di Jakarta Selatan pada 16 September 2019. Dalam pertemuan tersebut, Risyanto menanyakan kesanggupan Mujib menyiapkan kuota impor ikan tambahan sebesar 500 ton untuk Oktober 2019.
 
Pada pertemuan itu, Risyanto menyampaikan permintaan uang sebesar USD30 ribu atau setara Rp400 juta lebih kepada Mujib untuk keperluan pribadi. Risyanto meminta Mujib menyerahkan uang tersebut melalui Adhi Susilo yang menunggu di lounge hotel yang sama.
 
Risyanto dan Mujib kembali bertemu di salah satu cafe di Jakarta Selatan pada 19 September 2019. Mujib menyampaikan daftar kebutuhan impor ikan kepada Risyanto dalam bentuk tabel berisi informasi jenis ikan dan jumlah, termasuk komitmen fee yang akan diberikan kepada pihak Perum Perindo untuk setiap kilogram ikan impor.
 
Mujib selaku pemberi suap disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
 
Risyanto selaku penerima suap dijerat dengan Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001.

 

(DRI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif