Jakarta: Wakapolri Komjen Syafruddin menyesalkan kejadian intimidasi di acara car free day (CFD), Jakarta, Minggu lalu. Seharusnya, polisi bisa mengantisipasi dua kelompok massa yang berseberangan agar tak sampai bertemu.
"Menjaga dua kelompok yang berbeda itu tidak bertemu itu tugasnya Polri. Polri juga ada kelirunya kenapa bisa ketemu," kata Syafruddin di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 2 Mei 2018.
Jenderal bintang tiga itu mengatakan, apa pun alasannya, tindakan persekusi tak bisa dibenarkan. Laporan yang diterima kepolisian harus ditindaklanjuti. "Seharusnya diterima saja. Semua laporan itu mau benar atau salah itu diterima," ujar Syafruddin.
Baca: Ibu Korban Intimidasi di CFD Buat 2 Laporan Polisi
Ke depan pria yang juga mengemban tugas sebagai chef de mission Asian Games itu meminta area CFD benar-benar dimanfaatkan sebagai sarana olahraga.
"Pertama, car free day itu ditujukan untuk olahraga. Kedua, untuk kegiatan masyarakat bersosialisasi satu sama lain. Jadi kalau bisa selanjutnya CFD itu digunakan seperti yang diperuntukan," terang Syafruddin.
Sebelumnya, sebuah video yang menampilkan aksi intimidasi massa viral di media sosial. Dalam video berdurasi 2 menit 26 detik itu, tampak sekelompok orang yang mengenakan kaus #2019GantiPresiden mengintimidasi orang-orang yang mengenakan kaus #DiaSibukKerja.
Dalam salah satu cuplikan, kelompok tersebut menuding salah satu pria yang mengenakan kaus #DiaSibukKerja sebagai orang bayaran.
Sejumlah orang yang mengenakan kaus #2019GantiPresiden terus menyoraki pria itu sambil melambaikan sejumlah uang. Padahal, pria yang ditanya tersebut sudah mengaku tak dibayar.
Dalam video itu juga terekam massa yang mengintimidasi seorang ibu yang juga mengenakan kaus #DiaSibukKerja bersama anaknya. Anak sempat ketakutan dan menangis lantaran disoraki sejumlah orang. Keduanya kemudian diamankan oleh warga lain yang mengenakan kaus #2019GantiPresiden.
Jakarta: Wakapolri Komjen Syafruddin menyesalkan kejadian intimidasi di acara car free day (CFD), Jakarta, Minggu lalu. Seharusnya, polisi bisa mengantisipasi dua kelompok massa yang berseberangan agar tak sampai bertemu.
"Menjaga dua kelompok yang berbeda itu tidak bertemu itu tugasnya Polri. Polri juga ada kelirunya kenapa bisa ketemu," kata Syafruddin di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 2 Mei 2018.
Jenderal bintang tiga itu mengatakan, apa pun alasannya, tindakan persekusi tak bisa dibenarkan. Laporan yang diterima kepolisian harus ditindaklanjuti. "Seharusnya diterima saja. Semua laporan itu mau benar atau salah itu diterima," ujar Syafruddin.
Baca: Ibu Korban Intimidasi di CFD Buat 2 Laporan Polisi
Ke depan pria yang juga mengemban tugas sebagai chef de mission Asian Games itu meminta area CFD benar-benar dimanfaatkan sebagai sarana olahraga.
"Pertama, car free day itu ditujukan untuk olahraga. Kedua, untuk kegiatan masyarakat bersosialisasi satu sama lain. Jadi kalau bisa selanjutnya CFD itu digunakan seperti yang diperuntukan," terang Syafruddin.
Sebelumnya, sebuah video yang menampilkan aksi intimidasi massa viral di media sosial. Dalam video berdurasi 2 menit 26 detik itu, tampak sekelompok orang yang mengenakan kaus #2019GantiPresiden mengintimidasi orang-orang yang mengenakan kaus #DiaSibukKerja.
Dalam salah satu cuplikan, kelompok tersebut menuding salah satu pria yang mengenakan kaus #DiaSibukKerja sebagai orang bayaran.
Sejumlah orang yang mengenakan kaus #2019GantiPresiden terus menyoraki pria itu sambil melambaikan sejumlah uang. Padahal, pria yang ditanya tersebut sudah mengaku tak dibayar.
Dalam video itu juga terekam massa yang mengintimidasi seorang ibu yang juga mengenakan kaus #DiaSibukKerja bersama anaknya. Anak sempat ketakutan dan menangis lantaran disoraki sejumlah orang. Keduanya kemudian diamankan oleh warga lain yang mengenakan kaus #2019GantiPresiden.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(YDH)