Kejaksaan Agung. Foto: MI
Kejaksaan Agung. Foto: MI

5 Orang Jadi Tersangka Korupsi di LPEI

Tri Subarkah • 07 Januari 2022 07:12
Jakarta: Penyidik Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (JAM Pidsus) Kejaksaan Agung (Kejagung) menetapkan lima tersangka kasus dugaan korupsi penyelenggaraan pembiayaan ekspor nasional di Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) 2013-2019. Sebanyak tiga tersangka berasal dari internal LPEI. 
 
Tersangka dari lingkungan LPEI, yakni Kepala Kantor Wilayah LPEI Surakarta 2016 Josef Agus Susanta, Direktur Pelaksana IV sekaligus Direktur Pelaksana III LPEI Arif Setiawan, dan Kepala Divisi Pembiayaan UKM LPEI 2015-2018 Ferry Sjaifullah. Sebanyak dua tersangka dari pihak swasta, yakni Suyono selaku Direktur PT Jasa Mulia Indonesia, PT Mulia Walet Indonesia, PT Borneo Walet Indonesia (Grup Walet);  serta Direktur PT Mount Dreams Indonesia Johan Darsono.
 
Baca: Kejagung Tanggapi Viralnya Psikotes dan Kesehatan Diberi Nilai Nol

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Leonard Eben Ezer Simanjuntak mengatakan rasuah di LPEI terjadi karena pembiayaan kepada debitur dilakukan tanpa prinsip tata kelola perusahaan yang baik dan mendobrak kebijakan perkreditan internal. Hal ini mengakibatkan kredit macet pada 2019 mencapai 23,39 persen.
 
"Berdasarkan laporan keuangan LPEI per 31 Desember 2019, LPEI mengalami kerugian tahun berjalan sebesar Rp4,7 triliun," ungkap Leonard saat memberikan keterangan pers virtal dari Jambi, Kamis, 6 Januari 2022.
 
LPEI telah memberikan fasilitas pembiayaan kepada delapan grup yang terdiri dari 27 perusahaan. Sebanyak dua dari delapan grup itu ialah Grup Walet dan Grup Johan Darsono.
 
Leonard menyebut pemberian fasilitas ke tiga perusahaan Grup Walet dari LPEI sebesar Rp576 miliar, sedangkan fasilitas untuk 12 perusahaan Grup Johan Darsono mencapai Rp2,1 triliun. Berdasarkan Laporan Sistem Informasi Manajemen Risiko Pembiayaan, debitur tersebut sejatinya berada dalam posisi kolektibilitas 5 atau macet per 31 Desember 2019.
 
Leonard menyebut tersangka Arif terlibat dalam proses pemberian fasilitas ke Grup Walet dan Grup Johan Darsono. Pasalnya, Arif juga berperan sebagai komite pembiayaan atau pemutus awal sampai akhir kedua grup tersebut.
 
"Dari perhitungan sementara penyidik, mengakibatkan kerugian negara kurang lebih Rp2,6 triliun dan saat ini masih dilakukan perhitungan kerugian negara oleh BPK (Badan Pemeriksa Keuangan)," ungkap dia.
 
Para tersangka ditahan selama 20 hari pertama untuk kepentingan penyidikan. Arif, Ferry, dan Johan dikurung di Rutan Salemba cabang Kejaksaan Agung, sedangkan Josef dan Suyono di Rutan Salemba cabang Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan. 
 
Penyidik menjerat mereka dengan Pasal 2 Ayat 1 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU Nomor 31 Tahun 1999 subsider Pasal 3 juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP.
 
(OGI)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif